Aktivitas kegempaan di wilayah Jawa Barat terus menunjukkan intensitas tinggi menyusul catatan 195 kali gempa bumi oleh BMKG Bandung sepanjang Agustus 2026, disusul guncangan tektonik bermagnitudo 4,3 di Kabupaten Cianjur pada Selasa (1/9/2026) pukul 17.53 WIB. Tingginya kerentanan seismik ini tidak lepas dari posisi tektonik Jawa Barat yang berada di zona pertemuan Lempeng Indo-Australia dan Eurasia, serta keberadaan zona subduksi Samudra Hindia dan jejaring sesar aktif di daratan.
Sesar aktif merupakan patahan pada lapisan kulit bumi yang tercatat mengalami pergeseran dalam kurun waktu 10.000 tahun terakhir dan menyimpan potensi pergerakan di masa depan. Berdasarkan kajian geologi, terdapat sedikitnya lima sesar aktif utama di daratan Jawa Barat dengan jalur dan karakteristik masing-masing.
Jalur pertama adalah Sesar Cimandiri yang membentang sepanjang kurang lebih 100 kilometer. Sesar ini berawal dari Muara Sungai Cimandiri di Pelabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, mengarah ke timur laut melintasi Cianjur hingga ke Bandung Barat. Jalurnya terbagi menjadi beberapa segmen, meliputi segmen Cimandiri, Nyalindung-Cibeber, dan Rajamandala.
Sempat Padam, Kebakaran Kontrakan-Bedeng di Denpasar Kembali Nyala

Jalur kedua, Sesar Lembang, membentang sepanjang 29 kilometer di sebelah utara Kota Bandung, mulai dari kaki Gunung Manglayang di timur hingga Padalarang di bagian barat. Ahli geologi memproyeksikan potensi gempa dari sesar ini dapat mencapai magnitudo 6,5 hingga 7,0 dengan periode ulang yang relatif panjang.
Jalur ketiga adalah Sesar Baribis yang membentang di kawasan utara Jawa Barat dari Purwakarta, Subang, hingga Majalengka. Struktur patahan yang tergolong sesar naik (thrust fault) ini pada penelitian terkini juga teridentifikasi melintasi bagian selatan Jakarta.
Perbedaan Sesar Cugenang dan Sesar Cimandiri Karakteristik, Jalur, dan Risiko Gempa di Jawa Barat

Jalur keempat, Sesar Garsela di wilayah selatan, terbagi menjadi dua segmen utama yakni Rakutai dan Kencana dengan total panjang sekitar 42 kilometer. Karakteristik gempa yang dihasilkan umumnya berskala kecil di bawah magnitudo 5,0, tetapi mekanismenya yang sangat dangkal kerap mengakibatkan kerusakan fisik bangunan di Kabupaten Bandung dan Garut.
Jalur kelima yaitu Sesar Cugenang yang teridentifikasi BMKG pascagempa bumi Cianjur pada November 2022. Jalur patahan sepanjang sekitar 9 kilometer ini melintasi sembilan desa di Kecamatan Cugenang, mempertegas kompleksitas risiko seismik yang tersebar di daratan Jawa Barat.






