Sebanyak 334 siswa dan guru di Agam Sumbar keracunan MBG (Makan Bergizi Gratis) hingga harus dilarikan ke fasilitas pelayanan kesehatan. Peristiwa tersebut menimpa ratusan penerima manfaat program makanan tersebut di wilayah Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Konsumsi makanan program MBG awalnya berlangsung tanpa kendala saat dibagikan pada Senin (31/8). Namun, kondisi berubah drastis keesokan harinya, Selasa (1/9) sekitar pukul 10.00 WIB, ketika ratusan murid dan tenaga pendidik mulai mengeluhkan gejala serentak seperti demam, pusing, mual, muntah, hingga diare.
Berdasarkan data sementara pemerintah setempat, sebaran korban mencakup tiga nagari di Kecamatan Palupuh, yakni Nagari Nan Limo, Pasia Laweh, dan Koto Rantang. Rincian korban terdampak terdiri atas 274 murid sekolah dasar se-Kecamatan Palupuh, 19 guru SD, 40 siswa SMPN 1 Palupuh, serta dua guru dari SMP tersebut.
Identitas Jenazah di Gardu LRT Pancoran Masih Misterius, Polisi Alami Kendala Sidik Jari

Lonjakan kasus terlihat jelas di tingkat sekolah. Di SD Negeri 08 Nan Limo, jumlah siswa yang bergejala awalnya tercatat 21 anak, kemudian bertambah menjadi 54 anak. Kepala SD Negeri 08 Nan Limo, Jonnedi, membenarkan bahwa anak-anak menyantap makanan tersebut pada hari Senin tanpa ada keluhan langsung, sebelum akhirnya gejala massal muncul pada Selasa siang.
Seluruh korban langsung dievakuasi untuk mendapatkan penanganan medis di Puskesmas Palupuh dan sebagian lainnya dirujuk ke rumah sakit di Bukittinggi.
Penyelidikan Sumber Makanan dan Penghentian Dapur
Makanan MBG yang dikonsumsi para korban diketahui bersumber dari satu dapur penyedia, yaitu Yayasan Affa Adicitta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pasia Laweh, Kecamatan Palupuh. Menindaklanjuti insiden ini, Pemerintah Kabupaten Agam telah menginstruksikan dapur SPPG tersebut untuk menghentikan operasionalnya sementara waktu selama proses pemeriksaan berjalan.
WN Taiwan Penyelundup 800 Kg Ketamin Dibawa ke Bareskrim

Dinas Kesehatan Kabupaten Agam kini berkoordinasi intensif dengan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk melakukan uji laboratorium terhadap sampel makanan guna memastikan penyebab pasti keracunan. Hasil uji laboratorium diperkirakan baru akan keluar dalam waktu satu minggu.
Mengenai status penanganan insiden, Pemerintah Kabupaten Agam menyatakan belum menetapkan peristiwa dugaan keracunan massal ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB), mengingat otoritas terkait masih menunggu hasil resmi investigasi dan pengujian sampel dari BPOM serta Dinas Kesehatan.






