Data Kementerian Kesehatan per Jumat (21/8/2026) mencatat sedikitnya 3 juta orang di 37 kabupaten/kota terpapar langsung oleh kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa sekitar 3 juta orang telah terpapar asap karhutla, sehingga kewaspadaan terhadap ancaman kesehatan masyarakat perlu ditingkatkan secara menyeluruh di daerah terdampak.
Kondisi kabut asap ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap peningkatan gangguan pernapasan. Partikel polutan yang melayang di udara berisiko mengganggu saluran pernapasan masyarakat yang beraktivitas di wilayah sebaran asap karhutla.
Sebaran Paparan Kabut Asap di 37 Kabupaten dan Kota
Sebaran kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan yang menjangkau 37 kabupaten/kota menunjukkan luasnya dampak lingkungan yang dirasakan masyarakat. Paparan langsung terhadap 3 juta warga menuntut kesiapsiagaan di tingkat daerah untuk mengantisipasi lonjakan kasus gangguan pernapasan.
Kementerian Kesehatan terus memantau situasi di wilayah-wilayah terdampak dan menginstruksikan penguatan langkah mitigasi kesehatan. Menkes Budi Gunadi Sadikin mengimbau warga di seluruh kabupaten/kota terdampak untuk selalu memperhatikan kondisi udara lingkungan sekitar dan tidak mengabaikan paparan asap yang terjadi.
Bahaya Partikel Halus PM2,5 bagi Saluran Pernapasan
Ancaman utama di balik kabut asap kebakaran hutan dan lahan adalah partikel halus PM2,5. Partikel udara hasil pembakaran ini berukuran kurang dari 2,5 mikrometer, sehingga dapat dengan mudah terhirup masuk dan menembus hingga ke rongga terdalam paru-paru manusia.
Pesan Megawati dari Jejak Bung Karno di Surabaya

Paparan PM2,5 secara terus-menerus kerap memicu berbagai keluhan medis harian. Gejala awal yang sering muncul meliputi iritasi mata dan rasa gatal pada tenggorokan. Jika paparan berlanjut, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi sesak napas serta memperburuk kondisi penyakit paru kronis yang telah diderita sebelumnya.
Selain itu, paparan partikel halus ini secara signifikan meningkatkan risiko terjadinya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di tengah masyarakat kawasan terdampak.
Perlindungan Ekstra untuk Kelompok Rentan
Kementerian Kesehatan memberikan perhatian khusus terhadap kelompok rentan yang memiliki risiko komplikasi pernapasan lebih tinggi saat terpapar asap karhutla. Kelompok rentan tersebut meliputi anak-anak, ibu hamil, kalangan lanjut usia (lansia), serta warga yang memiliki riwayat penyakit asma dan gangguan paru.
Bagi kelompok ini, masuknya partikel PM2,5 ke dalam saluran pernapasan dapat memicu reaksi peradangan yang lebih cepat dan berat. Penurunan fungsi pernapasan pada kelompok rentan dapat memperparah kondisi fisik secara mendadak apabila tidak dilakukan pencegahan sejak dini.
Zulhas Minta Kader PAN Potong Gaji Bantu Korban Gempa NTT dan Karhutla, Rincian Kebijakan dan Sasarannya

Tindakan Pencegahan dan Rujukan ke Fasilitas Kesehatan
Guna meminimalkan risiko gangguan kesehatan, Menteri Kesehatan mengimbau masyarakat untuk disiplin memakai masker saat berada di luar ruangan. Penggunaan masker sangat penting untuk mengurangi volume partikel halus PM2,5 yang terhirup ke dalam saluran pernapasan.
Pemerintah juga mendorong warga untuk rutin memeriksa indeks kualitas udara secara mandiri melalui berbagai aplikasi resmi sebelum memutuskan untuk beraktivitas di luar rumah. Langkah pemantauan berkala ini krusial agar warga dapat mengambil keputusan yang tepat dalam melindungi diri dan keluarga dari paparan asap pekat.
Kementerian Kesehatan mengimbau warga yang mulai merasakan keluhan medis, seperti sesak napas, batuk yang menetap, nyeri dada, atau iritasi mata yang berat, untuk segera mencari pertolongan medis ke puskesmas atau rumah sakit terdekat sebelum kondisinya semakin memburuk.






