JAKARTA — Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank menandai 17 tahun perjalanannya sebagai policy bank pemerintah dan Special Mission Vehicle (SMV). Sejak didirikan berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2009, lembaga ini memegang mandat utama menunjang kebijakan pemerintah dalam memperkuat arus perdagangan dan ekspor produk Indonesia ke pasar global.
Dalam pelaksanaan tugas tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menginstruksikan LPEI untuk menjalin komunikasi intensif dengan pelaku usaha dan menawarkan bunga pembiayaan yang murah, khususnya bagi sektor-sektor yang tengah menghadapi tekanan pasar seperti industri tekstil dan furnitur. Direktur Eksekutif LPEI Sukatmo Padmosukarso menyatakan bahwa arahan dari Menteri Keuangan tersebut kian menegaskan arah kebijakan LPEI dalam menyediakan fasilitas pembiayaan yang adaptif terhadap kebutuhan industri nasional.
Perluasan Pasar Global dan Proyek Luar Negeri
Rekam jejak pembiayaan LPEI mencakup fasilitas bagi proyek-proyek yang dikerjakan kontraktor nasional di sejumlah negara, antara lain Malaysia, Amerika Serikat, Timor Leste, hingga Arab Saudi. Melalui skema buyers' credit, LPEI pada 2015 membiayai ekspor gerbong kereta api buatan PT INKA ke Bangladesh.
China Mendadak Bangun 'Hong Kong' Baru di Dekat RI Bernilai Rp2.000 T

Penetrasi ke pasar nontradisional juga dilakukan melalui penyaluran pembiayaan ekspor pesawat terbang produksi PT Dirgantara Indonesia ke Nepal, Senegal, dan Filipina, serta pengiriman gerbong kereta api PT INKA ke Selandia Baru. Pada 2025, jangkauan dukungan diperluas ke sektor strategis lain, meliputi ekspor jarum suntik industri farmasi nasional ke lebih dari 30 negara dan ekspansi jaringan gerai restoran lokal ke Malaysia di bawah program Indonesia Spice Up the World.
Kinerja Pembinaan UMKM dan Tata Kelola Lembaga
Selain proyek skala industri besar, LPEI menggerakkan program pemberdayaan berbasis komunitas dan pelaku usaha rintisan. Melalui Coaching Program for New Exporters (CPNE), tercatat 1.983 eksportir baru berhasil dicetak sepanjang kurun 2019 hingga Juli 2026. Program Desa Devisa yang dirintis dari komoditas kakao di Jembrana, Bali, pada 2019 pun telah berkembang hingga menjangkau 2.618 desa di berbagai daerah per Juli 2026. Tercatat per Juni 2026, dampak sosial-ekonomi atas penyaluran fasilitas LPEI mencapai 3,49 kali dari setiap rupiah pembiayaan.
Petani Ungkap Penyebab Harga Cabai Melesat hingga Tembus Rp 90 Ribu/Kg

Apresiasi atas kontribusi para pelaku usaha turut disalurkan melalui Indonesia Eximbank Export Champion Award. Penghargaan Jawara Inovasi Ekspor diberikan kepada PT Dekor Asia Jayakarya atas pemanfaatan perajin lokal dan strategi digital. Kategori Jawara Ekspor Berkelanjutan diraih PT Ungaran Sari Garments atas penerapan praktik ramah lingkungan, sementara kategori Jawara Penggerak Desa Devisa diserahkan kepada Desa Devisa Lidi Sawit Riau yang memberdayakan 925 petani dan ibu rumah tangga di 33 desa.
Penguatan operasional internal pada 2025 ditandai dengan perolehan predikat Good Practice Phase dalam Risk Maturity Assessment, sertifikasi SNI ISO 37001:2016 untuk Sistem Manajemen Anti Penyuapan, serta predikat Baik dalam evaluasi tata kelola dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).






