Lonjakan harga komoditas pangan kembali membebani konsumen setelah harga cabai rawit merah di tingkat eceran menembus angka di atas Rp 90.000 per kilogram (kg). Tren kenaikan ini dipicu oleh terganggunya produksi di sentra-sentra pertanian akibat cuaca ekstrem serta krisis ketersediaan air.
Ketua Asosiasi Champion Cabai Indonesia, Tunov Mondro Atmojo, mengungkapkan bahwa kenaikan harga sebenarnya sudah mulai dirasakan di tingkat petani sejak pertengahan Agustus. Faktor utama yang mendorong keterbatasan pasokan adalah kondisi cuaca yang sangat panas dan dampak fenomena El Nino, yang berujung pada kekeringan di berbagai lahan budidaya.
Kondisi panas ekstrem tanpa pasokan air memadai membuat tanaman cabai mengalami gagal bunga, sehingga tanaman berhenti menghasilkan bakal buah baru. Di sisi lain, langkah petani untuk melakukan penanaman ulang juga kerap menemui kegagalan lantaran bibit muda tidak mampu bertahan hidup di tengah minimnya pasokan air.
SPBU Buka 24 Jam, Antrean BBM di Makassar Mulai Terurai

Pasokan Minim di Sentra Produksi
Penurunan volume panen terlihat di sejumlah wilayah sentra di Jawa Timur, seperti Jombang, Kediri, dan Blitar. Kendati panen masih berlangsung di area-area tersebut, jumlah pasokan yang dihasilkan dilaporkan sangat minim sehingga tidak cukup untuk mengimbangi permintaan pasar secara nasional.
Saat ini, harga cabai di tingkat petani berada di kisaran Rp 53.000 hingga Rp 65.000 per kg. Di tingkat pasar induk, harga tercatat naik ke rentang Rp 70.000 hingga Rp 75.000 per kg. Ketika sampai di tangan konsumen akhir, harga komoditas pedas ini telah menyentuh kisaran Rp 90.000 hingga Rp 95.000 per kg.
Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) Bank Indonesia mencatat lonjakan serupa pada berbagai jenis cabai. Harga cabai merah keriting terpantau melesat hingga 9 persen menjadi Rp 62.950 per kg, sementara cabai rawit merah naik 7,2 persen dan menembus level Rp 90.050 per kg.
Menhub Pastikan Investigasi Menyeluruh Terkait Insiden KMP Virgo Transport 8 di Laut Jawa

Bantuan Infrastruktur dan Proyeksi Pasokan
Menghadapi potensi penyusutan stok nasional dalam tiga bulan ke depan, pemerintah mulai menyalurkan bantuan infrastruktur air bagi petani. Bantuan yang difokuskan ke wilayah-wilayah sentra produksi tersebut mencakup pembangunan sumur bor dan jaringan pipanisasi guna menyelamatkan lahan yang terdampak kekeringan.
Kendati upaya penanganan mulai berjalan, gangguan produksi akibat cuaca diprediksi masih akan menekan volume panen hingga Oktober mendatang. Ketersediaan pasokan cabai di pasar domestik diperkirakan baru akan mulai kembali mencukupi pada November.






