Gejolak ekonomi dan geopolitik global masih menjadi sentimen utama yang dipertimbangkan oleh para nasabah wealth management dalam menentukan penempatan investasi dan aset pada tahun 2026. Ketidakpastian kondisi global tersebut membuat para pemilik modal harus lebih berhati-hati dalam menyusun strategi alokasi aset agar portofolio tetap optimal dan terlindungi dari volatilitas pasar.
Dalam program Power Lunch di CNBC yang dipandu oleh Shania Alatas pada Jumat (11/09/2026), General Manager Divisi Wealth Management PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), Henny Eugenia, mengulas bagaimana nasabah segmen atas menyikapi dinamika pasar saat ini. Penempatan aset bagi nasabah BNI Emerald dan BNI Private senantiasa dipersonalisasi untuk menjawab kebutuhan masing-masing individu.
Penyesuaian Profil Risiko, Likuiditas, dan Imbal Hasil
Henny menjelaskan bahwa pilihan aset dan instrumen investasi bagi nasabah BNI Emerald maupun BNI Private disesuaikan secara cermat dengan tingkat toleransi risiko (risk appetite) masing-masing nasabah. Selain profil risiko, faktor likuiditas dan ekspektasi imbal hasil (yield) menjadi pertimbangan fundamental dalam meracik portofolio.
Ketika Anak Presiden Minta Warga Buang Dolar Buat Selamatkan Rupiah

Dengan mempertimbangkan ketiga faktor tersebut, strategi penempatan dana dapat dirancang secara fleksibel guna menyeimbangkan antara kebutuhan dana jangka pendek dan pertumbuhan aset jangka panjang di tengah situasi pasar yang dinamis.
Pentingnya Rebalancing Portofolio Menghadapi Kenaikan Suku Bunga
Perkembangan dinamika global saat ini menuntut nasabah wealth management untuk proaktif melakukan penyeimbangan ulang portofolio (portfolio rebalancing). Langkah rebalancing ini penting dilakukan, khususnya dalam mengantisipasi potensi kenaikan suku bunga acuan, baik dari bank sentral Amerika Serikat (The Fed) maupun suku bunga acuan domestik melalui BI Rate.
Kisah Konglomerat RI Rutin Bolak-Balik Gunung Kawi, Minta Petunjuk

Melalui peninjauan dan penyesuaian portofolio secara berkala, nasabah dapat mengelola risiko fluktuasi pasar serta memanfaatkan peluang imbal hasil yang muncul dari pergerakan suku bunga acuan tersebut secara terukur.






