Pasar modal dan nilai tukar domestik kembali menghadapi tantangan pengetatan moneter global menyusul proyeksi kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (The Fed). Jika The Fed menaikkan suku bunganya sebesar 25 hingga 50 basis poin (bps) hingga akhir tahun 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak dalam rentang yang sangat dinamis, yakni berpeluang menyentuh level 7.000 hingga 7.300 pada skenario terbaik, namun berisiko merosot ke level 6.000 dalam skenario negatif.
Pergerakan IHSG tersebut dinilai sangat bergantung pada kombinasi arah kebijakan Fed Funds Rate (FFR), respons suku bunga Bank Indonesia (BI Rate), dan stabilitas nilai tukar Rupiah. Ekspektasi pasar terhadap lonjakan suku bunga The Fed sendiri dipicu oleh tingginya volatilitas pasar dan rilis data makroekonomi AS terkini.
Kemenkeu Targetkan Rasio Utang 2027 di Kisaran 40,31% hingga 40,64% PDB

Faktor Pemicu Kebijakan The Fed dan Imbasnya ke Aset Domestik
Direktur Utama Recapital Asset Management, Nurdiaz Alvin Pattisahusiwa, menjelaskan bahwa prospek pengetatan lanjutan oleh The Fed tidak lepas dari indikator tenaga kerja dan tekanan harga di AS. Data non-farm payroll (NFP) yang tercatat masih cukup kuat serta tren inflasi AS yang tetap tinggi menjadi dasar kuat bagi pelaku pasar untuk memperkirakan kenaikan suku bunga FFR hingga 25–50 bps sampai pengujung 2026.
IHSG Ditutup Terkoreksi 0,12% ke Level 6.678

Dalam wawancara program Power Lunch bersama jurnalis CNBC Indonesia Andi Shalini pada Rabu (09/09/2026), Nurdiaz memaparkan implikasi tren higher-for-longer ini terhadap instrumen investasi lainnya, termasuk pasar obligasi pemerintah dan reksa dana:
- Surat Berharga Negara (SBN): Imbal hasil (yield) SBN bertenor 10 tahun diproyeksikan berada di kisaran 6,7% hingga 7,8%, dengan estimasi titik tengah berpotensi mencapai 7,2%.
- Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT): Dengan posisi imbal hasil SBN 10 tahun yang berada di level 7,1% hingga 7,2%, instrumen RDPT dinilai masih menawarkan potensi imbal hasil yang cukup positif bagi investor.
- Arah BI Rate: Bank Indonesia diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) hingga akhir tahun 2026, meski langkah ini tetap sangat dipengaruhi oleh kebijakan The Fed dan tekanan pada kurs Rupiah.






