Harga minyak mentah dunia kembali melonjak hingga menembus level US$100 per barel pada perdagangan Rabu (9/9). Lonjakan ini menandai level tertinggi komoditas energi global tersebut sejak Juli 2026, menyusul eskalasi konflik militer di kawasan Timur Tengah yang memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan berkepanjangan.
Pada awal sesi perdagangan, minyak acuan Brent melesat 2,3 persen hingga menyentuh US$100 per barel. Capaian ini menjadi kali pertama Brent kembali ke level psikologis tersebut sejak Juli lalu. Di pasar yang sama, minyak mentah Amerika Serikat West Texas Intermediate (WTI) turut naik 1,3 persen ke posisi sekitar US$94 per barel. Secara keseluruhan, pergerakan harga Brent maupun WTI telah membukukan kenaikan lebih dari 60 persen sepanjang tahun berjalan.
Kemenkeu Targetkan Rasio Utang 2027 di Kisaran 40,31% hingga 40,64% PDB

Kekhawatiran rantai pasok memuncak setelah serangkaian bentrokan bersenjata terbuka melibatkan kekuatan militer utama di kawasan. Komando Pusat AS (US Central Command/CENTCOM) mengonfirmasi bahwa pasukannya telah menyerang empat kapal tanker minyak Iran di Teluk Oman serta satu kapal lainnya di dekat Pulau Kharg. Kawasan Pulau Kharg yang terletak di Teluk Persia merupakan fasilitas inti bagi jalur ekspor minyak mentah Iran.
Pihak CENTCOM menyatakan operasi militer terhadap kapal-kapal tanker tersebut dilancarkan sebagai aksi balasan menyusul upaya serangan rudal balistik yang sebelumnya menargetkan kapal perang Angkatan Laut AS. Tekanan terhadap stabilitas distribusi minyak juga kian intensif akibat kelanjutan serangan yang dilancarkan kelompok Houthi di perairan sekitar.
IHSG Ditutup Terkoreksi 0,12% ke Level 6.678

Eskalasi militer yang kian luas di kawasan penghasil dan jalur lintasan minyak dunia tersebut dinilai langsung mengancam ketersediaan stok global. Reli harga minyak yang tak terbendung ini berpotensi meningkatkan beban biaya energi di berbagai negara konsumen.






