Kekhawatiran terhadap eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah kembali mencuat setelah muncul pembahasan mengenai kemungkinan Amerika Serikat mengambil opsi ekstrem berupa serangan nuklir terhadap Iran. Wacana ini mengemuka di tengah penilaian bahwa Washington belum mampu mencapai target strategisnya di Teheran meski telah mengerahkan segenap instrumen militer dan ekonomi.
Peringatan tersebut disampaikan oleh mantan penasihat antiterorisme kepresidenan AS, Joe Kent, dalam wawancara di podcast Tucker Carlson. Kent menilai Presiden AS Donald Trump gagal mencapai satupun tujuannya dalam konfrontasi dengan Iran. Menurutnya, jika Washington tetap bersikukuh menuntut penyerahan total sekaligus menyingkirkan kepemimpinan Iran dari kekuasaan, AS dihadapkan pada pilihan militer yang sangat sempit.
Kent menguraikan bahwa operasi darat skala penuh sama sekali tidak realistis untuk dijalankan karena faktor luas wilayah dan besarnya populasi Iran. Berangkat dari keterbatasan tersebut, ia berspekulasi bahwa Washington secara hipotetis dapat melirik opsi serangan nuklir taktis atau terbatas yang difokuskan pada fasilitas pengayaan uranium bawah tanah di kawasan pegunungan Iran.
Survei Median, 56,2 Persen Publik Puas Kinerja Prabowo-Gibran

Retorika keras antara kedua negara sebelumnya sempat memuncak pada April lalu, ketika Trump melontarkan ancaman bahwa peradaban Iran dapat dihancurkan apabila menolak tunduk pada tuntutan AS. Ancaman tersebut kala itu mencakup potensi penghancuran infrastruktur sipil vital, seperti pembangkit listrik dan jembatan.
Perubahan Taktik ke Sektor Ekonomi
Wacana mengenai opsi militer pamungkas ini bergulir menyusul keputusan AS yang secara mendadak menangguhkan gelombang serangan terbarunya ke Iran pada akhir bulan lalu. Penangguhan tersebut bertepatan dengan beredarnya laporan media mengenai dugaan menipisnya stok amunisi presisi tinggi serta rudal pencegat milik Pentagon, meski klaim kekurangan logistik pertahanan ini telah dibantah tegas oleh Trump dan jajaran pejabat senior AS.
Siaga Perang Baru NATO vs Rusia, Tangan Kanan Putin Kasih Kode

Menyusul jeda serangan fisik tersebut, pemerintah AS menggeser fokus tekanan ke ranah finansial. Trump mengumumkan operasi ekonomi besar-besaran yang ia beri nama "Hari-H Ekonomi" untuk melumpuhkan pendanaan Teheran.
Sebagai implementasi langkah itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent meluncurkan paket sanksi baru yang membidik hampir 60 entitas, individu, dan kapal lintas yurisdiksi, termasuk 21 pihak yang berbasis di China. Bessent menegaskan bahwa seluruh entitas yang terbukti memfasilitasi pencucian uang atas nama Iran akan dikeluarkan secara permanen dari sistem transaksi dolar AS.






