Tim formatur hasil Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) resmi mendapat tenggat waktu selama satu bulan untuk merampungkan susunan kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang baru. Tim ini bertugas menyeleksi dan menetapkan jajaran pengurus harian maupun lembaga yang akan menjalankan roda organisasi ke depan.
Dalam susunannya, Rais Aam terpilih KH Miftachul Akhyar ditunjuk sebagai ketua tim formatur. Sementara itu, Ketua Umum PBNU terpilih KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menempati posisi sekretaris tim formatur. Kepastian mengenai masa kerja tim ini disampaikan oleh Ketua Panitia Muktamar ke-35 NU, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), saat berada di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Gus Ipul yang juga menjabat sebagai Menteri Sosial menjelaskan bahwa susunan lengkap PBNU akan diumumkan ke publik setelah tim formatur menuntaskan seluruh proses pembahasan internal dalam kurun waktu 30 hari kalender pascapenetapan muktamar.
Jurus Berlapis Pemerintah Hadapi Kebakaran Hutan Lewat Regulasi hingga Pembentukan Brigade Karla

Perubahan Mekanisme Pemilihan
Muktamar ke-35 NU menandai perubahan tata cara penentuan pucuk pimpinan organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut. Berbeda dari gelaran-gelaran sebelumnya, Muktamar ke-35 tidak lagi memberlakukan sistem pemilihan langsung secara penuh (one man one vote) untuk memilih Ketua Umum.
Pada mekanisme terbaru, pengurus cabang dan wilayah yang memegang hak suara hanya menyampaikan usulan bakal calon Ketua Umum dengan batas minimal satu nama dan maksimal lima nama. Kumpulan nama usulan dari tingkat daerah tersebut kemudian diserahkan langsung kepada Rais Aam terpilih bersama anggota Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) untuk dimusyawarahkan dan diputuskan.
Pemkot Makassar-BPN Perkuat Kolaborasi, Fokus Lindungi Aset Kota

Menepis Isu Intervensi Kekuasaan
Menanggapi dinamika politik yang berkembang pascamuktamar, Gus Ipul membantah secara tegas dugaan adanya intervensi dari Istana Kepresidenan dalam penetapan Rais Aam maupun Ketua Umum PBNU. Ia menepis isu yang menyebut KH Miftachul Akhyar dan Gus Kikin merupakan pasangan yang sengaja dipersiapkan atau mendapatkan dorongan langsung dari pihak pemerintah.
Kehadiran Presiden pada agenda pembukaan hingga penutupan Muktamar ke-35 NU dinilai murni sebagai bentuk apresiasi dan penghormatan kenegaraan terhadap organisasi kemasyarakatan keagamaan, bukan bentuk intervensi struktural. Gus Ipul memastikan seluruh tahapan pengambilan keputusan berjalan independen sesuai dengan musyawarah mufakat di internal muktamirin dan AHWA.






