Ketukan palu dan benturan pelat logam yang menghasilkan bunyi tak-tek-tok menjadi denyut keseharian di Kampung Dukuh, Desa Pasir Mukti, Citeureup, Kabupaten Bogor. Salah satu rumah yang terus melantunkan irama kerja tersebut adalah milik Mansur (67), perajin yang tekun mengolah lembaran aluminium menjadi kaleng kerupuk mini.
Keahlian Mansur mengolah logam telah berjalan selama 15 tahun. Keterampilan tersebut diwarisi dari sang ayah yang dahulunya memproduksi kompor minyak tanah dan aneka perabot dapur. Kampung Dukuh sendiri mengalami pergeseran produksi seiring waktu. Ketika bahan bakar minyak tanah mulai dibatasi, para perajin sempat beralih membuat kompor batu bara. Namun, kendala pasokan batu bara memaksa mereka beradaptasi kembali hingga akhirnya fokus memproduksi loyang kue, cetakan kue, dan kaleng kerupuk mini.
Digitalisasi dan Jangkauan Pasar
Keterbatasan akses pasar para perajin tradisional mulai teratasi saat CEO Kampung Kaleng, Arif Rahmat, menginisiasi pendampingan pemasaran pada pertengahan 2015. Kampung Kaleng kemudian membuka etalase daring di Shopee sejak 11 tahun lalu. Kanal digital tersebut kini telah mencatatkan puluhan ribu pesanan dengan perolehan rating 4,7 dari 5 bintang.
Pemanfaatan platform digital turut diperkuat melalui siaran langsung. Moya (23), seorang pembuat konten dan pembawa acara di Kampung Kaleng, secara rutin menggelar siaran langsung selama 3 jam untuk mempromosikan produk unggulan berupa kaleng kerupuk mini. Langkah ini sejalan dengan penetrasi digital nasional, di mana riset We Are Social mencatat 221 juta pengguna internet di Indonesia atau setara 79,5 persen dari total populasi.
JEC 2026 Siap Hadirkan Pemimpin dan Praktisi Bisnis Terkemuka

Kerajinan kaleng dari Kampung Dukuh tidak hanya beredar di pasar domestik. Kampung Kaleng tercatat pernah mengekspor hasil kerajinan ke Malaysia dan Filipina dengan volume pengiriman mencapai 2.000 unit.
Sektor kriya memang memiliki andil nyata dalam perdagangan luar negeri. Data Badan Pusat Statistik (BPS) periode Januari hingga Oktober 2025 menunjukkan ekspor ekonomi kreatif nasional ditopang oleh kategori fesyen sebesar US$ 14.860,9 juta, kriya senilai US$ 11.101,0 juta, dan kuliner US$ 645,1 ribu. Destinasi ekspor ekonomi kreatif pada periode tersebut dipimpin Amerika Serikat senilai US$ 8,32 miliar, Swiss sebesar US$ 3,57 miliar, serta Jepang senilai US$ 1,32 miliar.
Tekanan Bahan Baku Global
Di tengah geliat penjualan, perajin kini berhadapan dengan kenaikan harga bahan baku aluminium sekitar 20 persen. Kondisi tersebut memaksa pengelola Kampung Kaleng melakukan penyesuaian harga jual produk secara berkala setiap pekan.
Lifting Minyak Tahun Depan Dikejar 612.500 Barel/ Hari

Lonjakan harga material ini dipengaruhi oleh dinamika pasar global. Catatan London Metal Exchange (LME) menunjukkan harga aluminium naik lebih dari 13 persen sejak eskalasi perang AS-Israel versus Iran pada 28 Februari. Kenaikan tersebut berlanjut hingga menyentuh 19 persen sepanjang 2026, yang menjadi level tertinggi sejak 2022. Kawasan Timur Tengah sendiri menyumbang sekitar 7 persen pasokan aluminium dunia dengan jalur distribusi yang bergantung pada Selat Hormuz.
Kendati menghadapi fluktuasi bahan baku, peran unit usaha mikro tetap menjadi penopang penting perekonomian. Data Kementerian UMKM mencatat sebanyak 65,5 juta unit UMKM beroperasi di Indonesia pada 2025 dengan kontribusi penyerapan tenaga kerja mencapai 97 persen. Menteri UMKM Maman Abdurrahman menegaskan bahwa kontribusi sektor UMKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai kisaran 57 hingga 60 persen.






