Tantangan besar kini tengah dihadapi oleh industri pariwisata di Indonesia akibat tingginya harga tiket pesawat yang masih terus bertahan. Kondisi ini tidak hanya membebani masyarakat yang memiliki kebutuhan untuk bepergian, tetapi juga memberikan tekanan yang signifikan terhadap aktivitas pariwisata secara keseluruhan serta tingkat okupansi hotel di berbagai daerah. Menurut Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Maulana Yusran, persoalan ini memerlukan perhatian serius karena dampaknya yang langsung dirasakan oleh para pelaku usaha di sektor perhotelan dan pariwisata.
Tekanan akibat mahalnya harga tiket pesawat ini dirasakan secara tidak merata, di mana dampak paling berat terjadi di daerah-daerah kepulauan serta wilayah yang berada di ujung Indonesia, khususnya Papua dan Maluku. Wilayah-wilayah tersebut menghadapi hambatan besar dalam menarik pengunjung. Maulana Yusran menjelaskan bahwa mahalnya harga tiket pesawat menjadi persoalan yang sangat serius bagi daerah-daerah yang selama ini sangat mengandalkan pergerakan wisatawan maupun pelaku perjalanan bisnis yang berasal dari Pulau Jawa. Tanpa adanya keterjangkauan tarif penerbangan, konektivitas antarwilayah menjadi terhambat.
Kemenhub Pastikan Bandara di Flores dan Sekitarnya Tetap Beroperasi Pascagempa

Sebagai contoh nyata dari tingginya biaya transportasi udara ini, Maulana Yusran mengungkapkan bahwa harga tiket pesawat untuk penerbangan dari Jakarta menuju Papua bahkan bisa mencapai Rp10 juta. Sebagai gambaran konkret di lapangan, pemantauan harga tiket pada tanggal 18 Agustus 2026 menunjukkan angka yang cukup tinggi untuk keberangkatan keesokan harinya, yaitu tanggal 19 Agustus 2026. Untuk rute penerbangan kelas ekonomi dari Jakarta menuju Jayapura, harga tiket yang terpantau berkisar antara Rp3,2 juta hingga Rp4,7 juta. Secara lebih rinci, penerbangan langsung yang dilayani oleh maskapai Batik Air untuk rute Jakarta-Jayapura tersebut tercatat berada di kisaran Rp4,74 juta. Sementara itu, untuk rute sebaliknya, yaitu Jayapura menuju Jakarta, tiket ekonomi termurah yang tersedia terpantau berada di kisaran Rp3,2 juta dengan sistem satu kali transit.
Tingginya harga tiket pesawat domestik ini dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal dan internal di dalam industri penerbangan. Salah satu faktor utama yang memicu kenaikan ini adalah meningkatnya harga bahan bakar pesawat atau avtur, yang terjadi seiring dengan dinamika perang di tingkat global. Kendati demikian, Maulana Yusran memberikan catatan bahwa sebelum adanya pembahasan mengenai dampak perang Iran sekalipun, harga tiket pesawat domestik di Indonesia memang sudah dinilai relatif tidak kompetitif jika dibandingkan dengan harga tiket untuk rute internasional. Hal ini menunjukkan adanya masalah mendasar yang sudah berlangsung lama sebelum konflik global tersebut memanas.
Pentingnya Transisi Energi untuk Mencapai Target Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen

Selain masalah bahan bakar avtur, industri penerbangan di Indonesia juga dihadapkan pada tantangan operasional lainnya, seperti permasalahan penyediaan suku cadang (spare parts) pesawat. Ditambah lagi, operasional bisnis aviasi memiliki tingkat ketergantungan yang sangat tinggi terhadap mata uang dolar Amerika Serikat. Kombinasi antara mahalnya suku cadang, ketergantungan pada dolar AS, serta lonjakan harga avtur akibat dinamika perang global, menciptakan beban berat bagi maskapai penerbangan yang akhirnya dibebankan kepada konsumen melalui harga tiket yang mahal. Dampak berantainya pun kini menekan okupansi hotel dan menghambat pemulihan industri pariwisata nasional, terutama di daerah-daerah kepulauan dan wilayah timur Indonesia.






