Rapat Paripurna DPR RI ke-2 Masa Persidangan I Tahun Sidang 2026-2027 pada Selasa, 18 Agustus 2026, menjadi titik penting dalam penyusunan anggaran negara. Sebanyak delapan fraksi menyetujui agar Rancangan Undang-undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun anggaran 2027 dibahas lebih lanjut. Rapat ini dipimpin oleh Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad dan dihadiri Menteri Keuangan Purbaya Yudhi yang mewakili pemerintah. Bagi masyarakat yang ingin memahami proses penyusunan kebijakan fiskal ini, ada beberapa langkah dan poin penting yang perlu dicermati mengenai postur anggaran serta tahapan selanjutnya.
Langkah pertama untuk memahami arah kebijakan ini adalah dengan mencermati postur dasar RUU APBN 2027. Pemerintah menetapkan target pendapatan negara sebesar Rp 3.426 triliun dengan rencana belanja negara mencapai Rp 4.097 triliun. Selisih dari angka tersebut menghasilkan defisit sebesar Rp 671,2 triliun, atau setara dengan 2,40 persen dari Produk Domestik Bruto. Asumsi makro lainnya yang perlu dipantau meliputi target pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen, tingkat inflasi 2,5 persen, suku bunga Surat Berharga Negara 10 tahun sebesar 6,9 persen, dan nilai tukar rupiah pada angka Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat.
Selain angka dasar tersebut, masyarakat juga dapat memantau indikator kesejahteraan dan energi. Harga minyak mentah Indonesia dipatok pada 75 dolar Amerika Serikat per barel, dengan target lifting minyak mentah 610 ribu barel per hari dan gas bumi 954 ribu barel setara minyak per hari. Pada aspek sosial, pemerintah menargetkan angka kemiskinan turun ke level 6 hingga 6,5 persen, pengangguran terbuka di kisaran 4,30 hingga 4,87 persen, rasio gini 0,362 hingga 0,367, indeks modal manusia 0,575, indeks kesejahteraan petani 0,8038, serta proporsi penciptaan lapangan kerja formal sebesar 40,81 persen.
Analisis Pergerakan Saham Afiliasi Haji Isam di Tengah Sentimen Pasar

Langkah selanjutnya adalah mengikuti catatan yang diajukan oleh berbagai fraksi selama pembahasan. Fraksi PDIP melalui Budi Sulistyono memberikan catatan agar pertumbuhan ekonomi diikuti dengan peningkatan pendapatan rakyat, lapangan kerja formal, pemerataan pembangunan, dan produktivitas. PDIP juga menyoroti program Makan Bergizi Gratis dengan alokasi anggaran Rp 242 triliun agar dieksekusi secara tepat sasaran, tepat manfaat, dan tepat anggaran. Selain itu, mereka meminta BPI Danantara untuk lebih berperan nyata dalam membangun infrastruktur guna mengurangi beban APBN.
Pandangan kritis juga dapat dilihat dari cara fraksi lain mengawal anggaran ini. Fraksi Nasdem yang diwakili Charles Meikyansah meminta pemerintah membongkar kartel logistik dan inefisiensi birokrasi untuk menekan angka Incremental Capital Output Ratio ke level 5,3 hingga 5,5. Nasdem turut menyoroti penurunan penerimaan negara bukan pajak dan kekayaan negara yang dipisahkan setelah pengalihan dividen Badan Usaha Milik Negara ke BPI Danantara. Mereka mendesak adanya kebijakan dividen yang jelas, transparansi pengelolaan laba, serta kepastian agar APBN tidak menanggung risiko korporasi secara berlebihan. Fraksi lain seperti Gerindra, PKB, Golkar, PKS, PAN, dan Demokrat juga menyatakan persetujuannya untuk melanjutkan pembahasan.
Uji Kelayakan Calon Gubernur BI Destry Damayanti Digelar Minggu Depan

Untuk terus mengawal proses ini, tahapan berikutnya yang patut ditunggu adalah penyampaian tanggapan pemerintah terhadap pandangan umum fraksi-fraksi. Wakil Ketua DPR Saan Mustopa menyatakan bahwa tanggapan tersebut akan dilaksanakan dalam rapat paripurna pada Kamis, 27 Agustus 2026. Jadwal ini ditetapkan berdasarkan keputusan rapat konsultasi pengganti rapat Badan Musyawarah DPR RI antara pimpinan DPR dan pimpinan fraksi pada tanggal 29 Juni 2026 yang lalu.






