Gempa bumi baru-baru ini melanda wilayah Flores dan sekitarnya di Nusa Tenggara Timur (NTT). Pasca-peristiwa alam tersebut, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) segera memastikan bahwa bandar udara di kawasan Flores dan sekitarnya tetap beroperasi secara normal. Langkah ini diambil untuk menjaga konektivitas udara di wilayah terdampak gempa tetap terjaga dengan baik. Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F. Laisa, memberikan penjelasan resmi terkait kondisi fasilitas transportasi udara di daerah tersebut. Dalam keterangan tertulis yang dirilis di Jakarta pada hari Selasa, 18 Agustus 2026, Lukman menegaskan bahwa tidak ada bandar udara yang ditutup akibat gempa yang melanda kawasan tersebut.
Meskipun operasional penerbangan tetap berjalan, beberapa bandar udara dilaporkan mengalami kerusakan fisik akibat guncangan gempa. Di Bandar Udara Komodo yang terletak di Labuan Bajo, petugas menemukan sejumlah kerusakan infrastruktur. Kerusakan tersebut meliputi kerusakan pada plafon terminal penumpang dan bangunan fire station. Selain itu, ditemukan pula retakan pada dinding gedung administrasi serta retak yang memanjang pada fillet Taxiway A. Untuk menara pengawas di Bandara Komodo, layanannya kini telah kembali beroperasi secara normal setelah pada tahap awal penanganan pascagempa sempat didukung perangkat VHF-A/G portable di luar tower untuk pelayanan komunikasi penerbangan.
Pengerahan 9.242 Personel Gabungan untuk Pengamanan Aksi Massa di Jakarta

Kerusakan infrastruktur juga terjadi di Bandar Udara H. Hasan Aroeboesman yang berada di Ende. Bandara ini mengalami kerusakan pada bagian plafon terminal serta muncul retakan pada dinding gedung PKP-PK dan struktur tower. Guna menjaga kelancaran lalu lintas udara, pelayanan lalu lintas udara di Bandara H. Hasan Aroeboesman didukung melalui rencana kontinjensi (contingency plan), yaitu dengan memindahkan jalur komunikasi ke Watchroom Gedung PKP-PK. Sementara itu, di Bandar Udara Umbu Mehang Kunda yang berada di Waingapu, dampak gempa menyebabkan kerusakan pada partisi dinding kaca yang terletak di lantai dua gedung terminal.
Bandar Udara Frans Sales Lega di Ruteng juga tidak luput dari dampak gempa bumi tersebut. Di bandara ini, kerusakan terjadi pada bagian arsitektur ACP terminal, plafon ruang rapat dan kantor, dinding PKP-PK, serta bagian tower. Di sisi lain, Bandar Udara Fransiskus Xaverius Seda di Maumere dilaporkan hanya mengalami kerusakan kategori ringan. Kerusakan ringan tersebut berupa kerusakan pada plafon dan kaca di lantai dua gedung terminal. Untuk fasilitas sisi udara di Bandara Fransiskus Xaverius Seda, termasuk runway dan apron, dipastikan masih berada dalam kondisi yang baik.
Cara Mencapai Target Lifting Minyak 610 Ribu Barel per Hari pada 2027

Karena kondisinya yang relatif aman di sisi udara, Bandar Udara Fransiskus Xaverius Seda tetap beroperasi dan turut mendukung pergerakan bantuan. Bandara ini juga digunakan untuk mendukung mobilisasi berbagai unsur pemerintah, termasuk memfasilitasi pergerakan Presiden Republik Indonesia serta unsur TNI/Polri. Sementara itu, kondisi di Bandar Udara Soa Bajawa menunjukkan adanya kerusakan pada plafon dan kaca terminal. Petugas juga mendeteksi adanya retakan pada dinding dan kolom di beberapa bangunan bandara, serta menemukan retak memanjang di area runway. Meskipun terdapat berbagai kerusakan di sejumlah bandara tersebut, koordinasi dan penanganan cepat terus dilakukan agar layanan penerbangan di NTT tetap berjalan aman.






