Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau kembali mencatat pergerakan melemah pada sesi perdagangan hari Selasa, 18 Agustus 2026. Berdasarkan data pasar uang yang dihimpun pada hari tersebut, mata uang Garuda harus ditutup terdepresiasi sebesar 0,17 persen, yang memposisikannya berada di level Rp17.850 per dolar AS. Penurunan nilai tukar ini menandai adanya tekanan baru terhadap mata uang domestik setelah sempat menunjukkan kinerja yang cukup positif pada akhir pekan sebelumnya. Para pelaku pasar pun terus mencermati berbagai sentimen global maupun domestik yang memengaruhi fluktuasi nilai tukar rupiah ini.
Sejak awal pembukaan perdagangan pada hari Selasa pagi, indikasi pelemahan rupiah sebenarnya sudah mulai terlihat dengan cukup jelas. Mata uang kebanggaan Indonesia ini dibuka melemah sebesar 0,06 persen dan langsung berada pada level Rp17.830 per dolar AS. Sepanjang hari perdagangan berlangsung, tekanan terhadap rupiah tidak kunjung mereda di pasar keuangan. Hingga menjelang penutupan pasar, rupiah tercatat kembali kehilangan sebanyak 20 poin dari posisi pembukaannya tersebut, sehingga akhirnya harus bertengger di posisi Rp17.850 per dolar AS pada akhir perdagangan hari Selasa.
Pelemahan nilai tukar yang terjadi pada hari Selasa, 18 Agustus 2026 ini sekaligus memutus tren penguatan yang sempat dirasakan pada hari perdagangan sebelumnya. Sebagai perbandingan dengan perdagangan pekan lalu, pada hari Jumat, 14 Agustus 2026, rupiah sebenarnya berhasil ditutup terapresiasi sebesar 0,22 persen. Apresiasi atau penguatan tersebut telah membawa nilai tukar rupiah ke posisi Rp17.820 per dolar AS pada akhir pekan lalu. Namun sangat disayangkan, penguatan tersebut tidak mampu dipertahankan saat memasuki pekan yang baru, di mana rupiah kembali mengalami depresiasi di hadapan dolar AS.
Analisis Pergerakan Saham Afiliasi Haji Isam di Tengah Sentimen Pasar

Di sisi lain, pergerakan negatif rupiah pada hari Selasa ini terbilang cukup menarik karena terjadi justru di tengah kondisi indeks dolar AS (DXY) yang sebenarnya juga terpantau sedang mengalami pelemahan tipis. Indeks yang mengukur kekuatan mata uang greenback terhadap enam mata uang utama dunia tersebut terpantau melemah sebesar 0,01 persen ke posisi 99,626 pada pukul 15.00 WIB. Pelemahan indeks dolar AS ini didorong oleh rilis data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat, yang menunjukkan bahwa penjualan ritel di negara tersebut mengalami penurunan pada bulan Juli. Penurunan penjualan ritel ini merupakan yang pertama kalinya terjadi dalam sembilan bulan terakhir.
Turunnya penjualan ritel di Amerika Serikat tersebut secara langsung turut memengaruhi proyeksi para pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter bank sentral AS di masa mendatang. Peluang kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), pada pertemuan bulan September mendatang kini diperkirakan hanya sebesar 30,6 persen. Angka peluang ini mengalami penurunan yang cukup tajam jika dibandingkan dengan posisi pada pekan sebelumnya yang sempat mencapai 52,2 persen.
Uji Kelayakan Calon Gubernur BI Destry Damayanti Digelar Minggu Depan

Sementara itu, dari dalam negeri, perhatian para pelaku pasar dan investor juga tertuju pada pelaksanaan agenda penting Bank Indonesia. Agenda tersebut adalah Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung selama dua hari, yaitu pada tanggal 18 hingga 19 Agustus 2026. Keberadaan rapat dewan gubernur ini turut memengaruhi dinamika serta sikap kehati-hatian para pelaku pasar di pasar keuangan domestik, yang pada akhirnya memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.






