Pemanfaatan solusi digital dan kejelian membaca kebutuhan pasar lokal terbukti menjadi strategi efektif bagi para pelaku usaha mikro untuk mendongkrak pendapatan. Temuan Loan Impact Report yang dirilis BukuWarung terhadap 1.839 pemilik usaha di 33 provinsi mencatat bahwa 72 persen responden mengalami pertumbuhan usaha dengan rata-rata kenaikan pendapatan mencapai 58 persen. Selain itu, sekitar 43 persen pelaku usaha di antaranya sukses memperbesar skala operasional mereka.
Keberhasilan adaptasi tersebut tecermin dari pengalaman sejumlah pemilik usaha di Sumatra Utara yang menerapkan langkah-langkah praktis untuk menjawab kendala harian operasional serta menangkap peluang ekonomi baru di lingkungan mereka.
Menjawab Kebutuhan Layanan Finansial Lokal
Di Kabupaten Simalungun, pemilik toko Virza Ponsel, Riko Febriansyah, memilih memperluas jenis layanan setelah melihat pergeseran demografi di sekitar tempat usahanya. Toko yang awalnya hanya menjual pulsa dan voucer tersebut bertransformasi ketika sejumlah pabrik baru beroperasi di wilayahnya.
Danantara Ungkap Kriteria Sektor Layak Investasi, Apa Saja?

Keberadaan pabrik-pabrik tersebut mendatangkan banyak tenaga kerja dari luar Pulau Sumatra yang membutuhkan akses perbankan praktis untuk mencairkan gaji dan mengirimkan uang ke keluarga di kampung halaman. Riko kemudian membuka layanan tarik tunai dan transfer melalui BukuAgen. Langkah ini mencatatkan transaksi tinggi hingga Virza Ponsel dua kali tercatat sebagai BukuAgen dengan volume transaksi terbanyak di tingkat kabupaten.
Tertib Finansial dan Kemudahan Transaksi Digital
Selain perluasan produk layanan, pembenahan sistem pembukuan turut menjadi faktor penentu kelangsungan usaha. Indah Setiawati, pemilik gerai Indah Ponsel di Simalungun, sempat menghadapi kendala besar saat seluruh catatan utang pelanggan miliknya rusak akibat tersiram tumpahan teh.
Penjualan 7.172 Pouch Makanan Kucing Halal Pecahkan Rekor Guinness World Records

Insiden tersebut mendorong Indah beralih sepenuhnya ke pencatatan digital lewat ponsel. Melalui sistem pencatatan digital, arus kas masuk dan keluar tercatat lebih rapi, sekaligus memudahkannya memantau piutang pelanggan yang belum dilunasi.
Sementara itu, di Pematang Siantar, pemilik toko THS Siantar, Tua Pangoluan Sitorus, mengatasi persoalan uang receh kembalian dengan mengadopsi metode pembayaran non-tunai. Tua yang sebelumnya kerap mengganti uang kembalian menggunakan permen鈥攎eski sering kali ditolak pelanggan鈥攌ini menyediakan layanan pembayaran digital melalui QRIS BukuPay. Opsi tersebut memungkinkan pelanggan membayar dengan nominal pas tanpa kendala ketiadaan uang pecahan kecil.






