Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meminta gedung-gedung di wilayah Jakarta yang memiliki fasilitas water mist untuk turut mengaktifkannya. Pengaktifan fasilitas tersebut diarahkan untuk membantu mengurangi dampak sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau yang sampai ke Jakarta.
Pramono menyampaikan imbauan dan perkembangan penanganan tersebut secara langsung di Balai Kota Jakarta pada Senin (7/9/2026). Ia memastikan bahwa upaya penyemprotan partikel air terus dilakukan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta hingga Selasa (8/9/2026).
"Water mist itu terus kita lakukan sampai dengan besok. Dan kami bahkan sudah meminta kepada gedung-gedung yang mempunyai fasilitas untuk water mist, kami minta untuk bisa dilakukan itu," ujar Pramono di Balai Kota Jakarta.
Gempa M6,5 di Dekat Kepulauan Seribu, Dipastikan Tak Berpotensi Tsunami

Pelibatan Instansi dan Penurunan Sebaran Abu
Dalam pelaksanaan penanganan di lapangan, Pemprov DKI Jakarta menggerakkan sejumlah unsur terkait untuk memaksimalkan mitigasi. Kerja sama lintas sektoral tersebut melibatkan petugas dari Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta Satpol PP.
Pramono mengungkapkan bahwa tingkat sebaran abu vulkanik di wilayah Jakarta sejatinya telah mencatatkan penurunan yang signifikan. Kendati demikian, berbagai langkah penanggulangan tetap dijalankan secara aktif karena sisa abu vulkanik masih ditemukan di sejumlah titik wilayah ibu kota.
Dua Pria Ditangkap Bawa 5,2 Kg Sabu Senilai Rp 5,24 M

Opsi Operasi Modifikasi Cuaca
Selain mengoptimalkan water mist dari armada darat dan gedung-gedung tinggi, pemerintah juga menyiapkan opsi penerapan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Pelaksanaan teknologi modifikasi cuaca ini nantinya akan sangat bergantung pada keberadaan kondisi awan yang mendukung di atmosfer.
Langkah penanganan melalui OMC tersebut juga direncanakan oleh pihak pemerintah pusat guna menekan dampak abu vulkanik secara lebih luas. Menurut estimasi, potensi kondisi awan yang baik dan memenuhi kriteria pelaksanaan modifikasi cuaca diprediksi terjadi pada rentang waktu tanggal 7 sampai 8 September 2026.






