Pelaksanaan pengamanan aksi massa di wilayah perkotaan membutuhkan persiapan yang matang serta pengerahan kekuatan yang memadai. Dalam upaya menjaga ketertiban umum, sebanyak 1.839 personel gabungan yang terdiri dari unsur TNI dan Polri diterjunkan secara langsung. Ribuan aparat keamanan tersebut disiagakan untuk mengamankan aksi damai yang digelar oleh kelompok silat PSHT. Berdasarkan informasi dari pihak kepolisian, rangkaian kegiatan penyampaian aspirasi tersebut dilaksanakan pada hari Jumat (31/7) siang. Pengerahan pasukan dalam jumlah besar ini merupakan langkah strategis untuk memastikan bahwa seluruh kegiatan berjalan dengan lancar tanpa mengganggu aktivitas masyarakat lainnya di sekitar lokasi.
Aksi damai yang dilakukan oleh massa kelompok silat PSHT ini tidak terjadi tanpa sebab. Gerakan turun ke jalan tersebut merupakan buntut dari sebuah kasus tindak kekerasan. Secara spesifik, aksi ini dipicu oleh kasus pembacokan yang menimpa salah satu anggota kelompok silat. Insiden pembacokan tersebut melibatkan seorang penagih utang atau debt collector di wilayah Surabaya. Sebagai bentuk respons atas peristiwa yang menimpa rekan mereka, massa kelompok silat memusatkan aksi protesnya di dua lokasi utama. Aksi tersebut digelar secara langsung di kantor debt collector yang berlokasi di Jalan Teuku Umar dan di Mapolrestabes Surabaya.
Dalam merencanakan strategi pengamanan, pihak kepolisian telah melakukan pemetaan terhadap berbagai potensi kerawanan. Meskipun pada hari tersebut aksi damai hanya diperuntukkan bagi anggota kelompok silat dari wilayah Surabaya, aparat keamanan tetap memperhitungkan dinamika di lapangan. Kapolrestabes Surabaya Kombes Luthfie Sulistiawan menyampaikan bahwa pengerahan ribuan personel TNI dan Polri dilakukan karena adanya potensi kedatangan massa aksi dari luar Surabaya. Kepolisian mendeteksi adanya kemungkinan pergerakan massa aksi dari daerah lain yang ingin bergabung. Oleh karena itu, langkah antisipasi sangat diperlukan guna mencegah terjadinya penumpukan massa yang berada di luar kendali petugas.
Kecelakaan Maut di Tol Jombang-Mojokerto, 4 Tewas 7 Luka

Untuk mengantisipasi potensi gesekan akibat kedatangan massa dari luar kota, strategi penyekatan dan pembagian pasukan diterapkan secara ketat. Kombes Luthfie Sulistiawan mengambil kebijakan untuk membagi petugas gabungan ke sejumlah titik yang dinilai rawan terjadi perpecahan. Selain menempatkan personel untuk berjaga di Mapolrestabes Surabaya dan Jalan Teuku Umar, petugas juga disiagakan di berbagai titik perbatasan yang menjadi akses keluar dan masuk kota. Melalui penjagaan di perbatasan ini, jika ditemukan adanya anggota kelompok silat dari daerah lain yang hendak bergabung, petugas akan langsung memberikan imbauan agar mereka tidak masuk ke dalam kota.
Pengamanan aksi massa tidak hanya berfokus pada titik kumpul utama, melainkan juga mencakup kewaspadaan terhadap ancaman dari pihak luar. Petugas di lapangan diminta untuk tetap siaga hingga seluruh rangkaian aksi selesai, tidak hanya pada saat aksi sedang berlangsung. Selain itu, Kombes Luthfie Sulistiawan secara khusus mengingatkan jajarannya untuk mewaspadai kemungkinan adanya penyusup di tengah massa aksi. Para penyusup ini umumnya mencoba menyamarkan identitas mereka agar sulit dikenali oleh petugas. Ciri-ciri yang patut diwaspadai dari para penyusup tersebut antara lain adalah penggunaan masker, jaket berpenutup kepala atau hoodie, serta jenis penutup kepala lainnya.
Polisi Tetapkan 3 Tersangka Kasus Pengeroyokan Pedagang Kaca di Pejompongan

Aspek psikologis dari para peserta aksi juga menjadi pertimbangan penting dalam pelaksanaan tugas pengamanan. Kombes Luthfie Sulistiawan meminta agar seluruh petugas di lapangan mengedepankan kesabaran dan tidak mudah terpancing oleh situasi. Instruksi ini didasarkan pada fakta bahwa kebanyakan dari anggota kelompok silat yang mengikuti aksi tersebut masih berusia di bawah umur. Individu yang masih di bawah umur umumnya memiliki tingkat emosi yang tidak stabil, sehingga rentan terhadap provokasi. Dengan pendekatan yang lebih sabar dan persuasif, diharapkan potensi benturan antara petugas dan massa aksi dapat dihindari, sehingga tujuan pengamanan aksi damai dapat tercapai dengan baik.






