Ketegangan di Selat Taiwan mendorong Taipei untuk merombak strategi pertahanan mereka secara radikal. Pemerintah Taiwan saat ini tengah mempercepat pembangunan armada drone udara serta kapal tanpa awak guna mengantisipasi potensi invasi dari China. Langkah taktis ini dirancang untuk menciptakan medan tempur yang sangat menyulitkan bagi pasukan penyerbu. Pihak militer Amerika Serikat menyebut konsep medan perang yang dipenuhi armada nirawak ini sebagai "hellscape" atau neraka bagi pasukan penyerang.
Upaya pertahanan berbasis teknologi nirawak ini tidak muncul begitu saja secara instan, melainkan melalui proses adaptasi yang terus dievaluasi. Direktur Jenderal Perencanaan Strategis Kementerian Pertahanan Taiwan, Letnan Jenderal Huang Wen-chi, mengakui bahwa langkah Taiwan dalam mengembangkan drone dan sistem penangkalnya sebenarnya dimulai agak terlambat. Pada masa-masa awal, militer Taiwan harus melakukan uji coba sambil berjalan untuk menemukan formula yang tepat. Kini, kemampuan drone dan teknologi penangkalnya telah sepenuhnya diintegrasikan ke dalam latihan Han Kuang, sebuah latihan militer tahunan yang berlangsung selama 10 hari.
Dari sisi pendanaan, rencana besar ini memicu perdebatan anggaran yang cukup signifikan di parlemen. Pemerintah Taiwan telah mengusulkan anggaran sekitar US$6,5 miliard atau setara Rp115,7 triliun dengan jangka waktu pengadaan selama lima tahun. Di sisi lain, kelompok oposisi politik mengusulkan alokasi anggaran yang bahkan lebih besar, yakni mencapai US$7,4 miliar atau sekitar Rp131,7 triliun untuk jangka waktu enam tahun. Di tengah pembahasan politik tersebut, industri drone Taiwan menunjukkan geliat yang sangat pesat. Pada kuartal pertama tahun 2026, nilai ekspor drone Taiwan tercatat mencapai US$115 juta atau sekitar Rp2,05 triliun, angka yang berhasil melampaui total ekspor drone sepanjang tahun 2025.
Bagaimana sebenarnya detail rencana ini dan apa saja tantangan yang dihadapi di lapangan? Berikut adalah beberapa pertanyaan penting yang merangkum perkembangan proyek pertahanan udara dan laut nirawak Taiwan.
Apa target utama dari pengadaan armada nirawak Taiwan?
Dorong Pemulihan Warga NTT, dari Bantuan Darurat hingga Penguatan Ekonomi Lokal

Pemerintah Taiwan memiliki target ambisius untuk mengamankan lebih dari 210.000 drone udara dan laut. Seluruh armada nirawak ini dipersiapkan untuk dikerahkan dalam berbagai tahapan konflik guna menahan laju pasukan musuh di wilayah perairan maupun udara. Rencana ini menjadi pilar utama dalam membangun pertahanan asimetris untuk menghadapi kekuatan militer lawan yang jauh lebih besar.
Bagaimana kesiapan industri domestik Taiwan dalam memenuhi kebutuhan tersebut?
Ketua Asosiasi Industri Drone Nasional Taiwan, Max Lo, menjelaskan bahwa Taiwan menargetkan kapasitas produksi massal hingga mencapai 100.000 unit drone per bulan pada tahun 2030. Rencananya, sekitar setengah dari total hasil produksi tersebut akan dialokasikan untuk pasar ekspor, sedangkan sisa produksinya akan memperkuat pertahanan domestik. Lonjakan nilai ekspor pada kuartal pertama tahun 2026 menjadi indikator awal bahwa kapasitas produksi industri dalam negeri mereka sedang mengalami akselerasi yang signifikan.
Apa saja tantangan dan keterbatasan yang dihadapi Taiwan dalam program ini?
Kebakaran Pabrik Sabun di Simalungun, Sumut, 3 Pekerja Tewas, Diduga Lompat

Meskipun targetnya sangat besar, program ini tidak terlepas dari keterbatasan materiil dan ketidakpastian taktis. Letnan Jenderal Huang Wen-chi sendiri mengakui adanya keterlambatan awal dan fase uji coba yang bersifat trial and error. Selain itu, keunggulan teknologi ini tidak berjalan satu arah. Beijing juga secara aktif mengembangkan pesawat dan kapal tanpa awak versi mereka sendiri, lengkap dengan teknologi khusus untuk mendeteksi serta menghancurkan drone lawan. Dinamika ini membuat efektivitas "neraka drone" di lapangan masih menjadi subjek analisis mendalam oleh para pengamat militer, termasuk Mick Ryan, pensiunan mayor jenderal Australia yang kini menjadi peneliti senior di Lowy Institute.
Mengapa latihan militer Han Kuang menjadi sangat penting dalam strategi ini?
Latihan militer Han Kuang yang berlangsung selama 10 hari setiap tahunnya berfungsi sebagai laboratorium langsung bagi militer Taiwan. Melalui latihan berkala ini, integrasi antara unit tempur konvensional dengan sistem drone udara serta laut diuji secara berkala. Hal ini penting untuk memastikan bahwa keterlambatan pengembangan di masa lalu dapat dikejar melalui taktik operasional yang matang dan terkoordinasi dengan baik saat konflik sesungguhnya terjadi.






