Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur resmi memperpanjang status tanggap darurat penanganan gempa bumi selama 14 hari ke depan hingga 12 September 2026. Keputusan ini diteken langsung oleh Gubernur NTT Emmanuel Melkiades Laka Lena guna mengoptimalkan masa penanganan pascabencana di lapangan.
Perpanjangan status tanggap darurat ini merupakan yang pertama sejak lindu berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026 lalu. Langkah legalitas ini dinilai krusial agar distribusi bantuan serta penyaluran logistik ke seluruh titik terdampak dapat berjalan lancar tanpa terhambat persoalan administrasi.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat dampak bencana hingga Sabtu, 29 Agustus 2026, telah menelan 111 korban jiwa. Di samping itu, aktivitas kegempaan di wilayah NTT masih berlangsung intensif. Terhitung sejak peristiwa gempa utama, tercatat 9.278 kali gempa susulan dengan rentang magnitudo 1 hingga 6,2, di mana sebanyak 153 getaran di antaranya dirasakan langsung oleh warga.
IKN Siaga 1! Api Kebakaran di 319 Hektare Lahan Belum Padam

Kebutuhan penanganan logistik kian mendesak seiring meningkatnya data pengungsi hasil verifikasi di lapangan. Di Kabupaten Ngada, jumlah pengungsi tercatat melonjak dari 3.259 orang menjadi 21.552 orang setelah dilakukan validasi ulang data kependudukan terdampak.
Untuk menyokong kebutuhan para pengungsi, distribusi logistik terus digencarkan. Sepanjang periode 15 hingga 29 Agustus 2026, total logistik yang telah dikirimkan ke wilayah terdampak mencapai 1.916 ton. BNPB sendiri mencatat telah memberangkatkan 22 ton bantuan, dengan tambahan penerimaan bantuan masuk sebanyak 5 ton per Sabtu (29/8).
Kejagung Gelar Rakor Bareng Kortas hingga KPK, Febrie Segera Disidang

Adapun sebaran logistik yang telah terkirim meliputi 1.200 ton di Labuan Bajo, 598 ton di Maumere, 30 ton di Manggarai Timur, 25 ton di Manggarai, 16 ton di Nagekeo, 16 ton di Ende, 12 ton di Manggarai Barat, 10 ton di Sikka, serta 8 ton di Kabupaten Ngada.






