Badan Geologi menetapkan status Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga menyusul aktivitas kegempaan yang tercatat masih tinggi hingga siang hari ini, 7 September 2026. Tingginya intensitas gempa yang berasosiasi dengan aktivitas vulkanik tersebut menunjukkan bahwa erupsi lanjutan masih berpotensi terjadi sewaktu-waktu.
Untuk mengantisipasi perkembangan aktivitas gunung api tersebut, Badan Geologi melakukan pemantauan intensif secara berkala. Pengamatan visual dan kegempaan terus dipantau melalui dua fasilitas utama, yakni Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran, Banten, serta pos pemantauan di Kalianda, Lampung.
55 WN Cina Ditangkap Imigrasi di BSD terkait Izin Tinggal

Berdasarkan laporan rekaman aktivitas pada periode pengamatan pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, instrumen pemantau mencatat terjadinya 17 kali gempa frekuensi rendah (low frequency).
Selain itu, terekam pula 23 kali gempa fase banyak atau hybrid. Kemunculan gempa hybrid ini mengindikasikan adanya proses pembentukan rekahan pada batuan yang disertai pergerakan fluida di dalam tubuh gunung api.
Prabowo, Kebakaran Dekat IKN Harus Diperhatikan!

Dalam jendela pemantauan enam jam yang sama, tercatat 9 kali gempa tremor. Rangkaian gempa tremor tersebut semakin memperkuat indikasi adanya pergerakan fluida yang aktif di dalam sistem vulkanik Gunung Anak Krakatau, sehingga tingkat kewaspadaan tetap dipertahankan pada status Siaga III.






