Kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) nasional yang mencapai 1,5 juta hingga 1,6 juta barel per hari masih melampaui kapasitas produksi minyak mentah domestik yang berada di kisaran 600 ribu barel per hari. Kesenjangan volume tersebut menuntut Indonesia mengandalkan rantai pasok impor lintas benua untuk menjaga ketersediaan energi di dalam negeri.
Sebelum dapat dikonsumsi masyarakat dalam bentuk bensin, solar, avtur, hingga LPG dan produk turunan lainnya, minyak mentah harus menempuh perjalanan pengapalan jarak jauh menuju kilang pengolahan. Pengangkutan energi dunia sangat dipengaruhi oleh jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz yang menjadi koridor perdagangan minyak global.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa Indonesia mendatangkan minyak dari sejumlah negara menyusul terjadinya gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah. Menyikapi situasi tersebut, pemerintah memperluas jangkauan sumber pasokan di luar kawasan Timur Tengah, meliputi Amerika Serikat, Afrika, Asia, dan kawasan ASEAN. Saat ini, pemenuhan kebutuhan minyak mentah dan BBM nasional berasal dari perpaduan produksi domestik dan pasokan dari Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, Singapura, Malaysia, India, Nigeria, Angola, Amerika Serikat, Brasil, hingga Mesir.
3 Tahun Buron, Erick Soedjasa Tersangka Penipuan Rp 37 M Ditangkap Bareskrim

Di tengah kompleksitas rantai pasok tersebut, Pertamina terus berupaya menjaga ketahanan energi nasional sembari mendorong masyarakat memanfaatkan bahan bakar secara efisien dan tepat sasaran. Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron menjelaskan bahwa kedisiplinan pengguna kendaraan memegang peranan penting dalam efisiensi energi. "Menggunakan BBM sesuai spesifikasi kendaraan merupakan bentuk kontribusi nyata dalam mendukung ketahanan energi nasional," ujarnya.
Upaya penghematan BBM juga dinilai mendesak untuk diperluas ke ranah publik. Ketua Research Group on Energy Security for Sustainable Development Universitas Indonesia (RESSED UI) Ali Ahmudi menyebut efisiensi konsumsi bahan bakar perlu menjadi gerakan bersama seluruh elemen masyarakat.
Ony Suprihartono Resmi Menjabat Komisaris Asuransi Tugu

Pakar kebijakan publik Trubus Rahardiansah menambahkan, konsumsi energi yang berlebihan berisiko menimbulkan persoalan serius di tengah ketidakpastian kondisi global. Ia menekankan pentingnya edukasi publik yang lebih masif agar kesadaran menggunakan energi secara bijak dapat terwujud secara konsisten.






