Bulan September diprediksi menjadi puncak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sekaligus periode krusial dalam upaya pengendalian karhutla di Indonesia.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan bahwa penanganan karhutla selama sebulan ke depan menjadi fokus utama menyusul prakiraan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Berdasarkan informasi BMKG, potensi curah hujan diperkirakan baru akan muncul pada awal Oktober, sehingga September menjadi fase paling menantang dalam operasi pemadaman.
Pemerintah memfokuskan pengerahan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dinilai sebagai metode penanganan paling efektif selama jendela operasional masih tersedia. Selain memaksimalkan OMC, strategi terpadu yang dijalankan mencakup pengeboman air (water bombing) dari udara serta pengerahan tim darat.
Kementerian Kehutanan juga berupaya menambah kekuatan di lapangan dengan mengerahkan lebih dari 1.000 personel tambahan melalui mekanisme Bawah Kendali Operasi (BKO).
Jurus Berlapis Pemerintah Hadapi Kebakaran Hutan Lewat Regulasi hingga Pembentukan Brigade Karla

Pantauan Sebaran Titik Panas di Daerah
Berdasarkan pemantauan terkini, sejumlah wilayah di Pulau Kalimantan dan Sumatra mencatatkan pergerakan titik panas (hotspot) serta titik api (fire spot).
Di wilayah Kalimantan Barat, lonjakan signifikan terjadi dengan kenaikan 3.553 hotspot sehingga total mencapai 7.377 titik. Titik api di provinsi tersebut juga naik 16 titik menjadi 72 titik, dengan jarak pandang terpantau menurun hingga kurang dari 1 km.
Di Kalimantan Tengah, hotspot tercatat turun 147 titik menjadi 5.244 titik, namun titik api bertambah 16 titik menjadi 72 titik dengan visibilitas kurang dari 1 km. Sementara di Kalimantan Selatan, hotspot turun 405 titik menjadi 504 titik, titik api naik 3 titik menjadi 55 titik, dan jarak pandang tercatat di bawah 2 km.
Pemkot Makassar-BPN Perkuat Kolaborasi, Fokus Lindungi Aset Kota

Untuk wilayah Pulau Sumatra, Sumatera Selatan mencatat kenaikan 209 hotspot menjadi 1.013 titik, kendati titik api turun 7 titik menjadi 11 titik dengan jarak pandang kurang dari 5 km.
Kondisi berbeda terpantau di Riau, di mana hotspot turun 202 titik menjadi 62 titik dan titik api berkurang 2 menjadi 12 titik dengan jarak pandang berkisar 4–5 km. Di Jambi, hotspot turun 86 titik menjadi 49 titik, dengan 4 titik api tercatat serta jarak pandang berada pada rentang 6–7 km.






