Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Banda Aceh pada Jumat, 7 Agustus 2026. Pertemuan tersebut secara khusus membahas percepatan pemulihan pascabencana alam di Provinsi Aceh yang berfokus pada sektor pertanian, sistem pengairan, dan Daerah Aliran Sungai (DAS). Agenda koordinasi ini berjalan di bawah arahan Kepala Satgas PRR Tito Karnavian dan Kepala Posko Wilayah Satgas PRR Safrizal Zakaria Ali.
Berdasarkan data pencatatan Kementerian Pertanian per Rabu, 5 Agustus 2026, penyusunan Dokumen Rancangan Teknis/Survei, Investigasi, dan Desain (DRT/SID) secara akumulatif telah mencapai 39.409 hektare. Jumlah ini merepresentasikan 75 persen dari total target pemulihan seluas 52.394 hektare. Di sisi lain, realisasi fisik konstruksi untuk pemulihan lahan baru berjalan di angka 16.780 hektare atau sekitar 32 persen dari target.
Dalam pelaksanaan di tingkat daerah, wilayah Pidie Jaya, Aceh Jaya, Aceh Barat Daya, dan Kota Langsa dilaporkan telah menyelesaikan 100 persen kontrak untuk kegiatan pemulihan lahan. Meski demikian, realisasi konstruksi fisik secara keseluruhan di empat daerah tersebut masih berada di kisaran 18 persen. Guna menyokong aktivitas pertanian, Kementerian Pertanian juga menyalurkan bantuan benih padi pascabencana senilai sekitar Rp9,67 miliar untuk lahan seluas 26.177 hektare, dengan realisasi penanaman yang kini telah berjalan di area seluas 10.416 hektare.
Langkah Persiapan Menyambut Rute Baru LRT Jakarta Fase 1B Velodrome-Manggarai

Upaya pemulihan ini juga didukung oleh alokasi anggaran belanja tambahan di sektor perkebunan sebesar Rp328,08 miliar yang diarahkan untuk memulihkan lahan seluas 15.718 hektare di delapan kabupaten. Sementara itu, Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I mencatat progres penanganan tanggap darurat yang kini telah mencapai 87,42 persen.
Melihat kondisi riil di lapangan, tingkat kerusakan lahan pertanian bervariasi di setiap kabupaten. Di Aceh Utara, kerusakan sawah tercatat cukup masif dengan rincian 4.679 hektare mengalami rusak berat, 6.447 hektare rusak sedang, dan 7.189 hektare rusak ringan. Sementara di Pidie Jaya, dari total sekitar 1.507 hektare lahan pertanian terdampak, baru sekitar 312 hektare lahan dengan kategori rusak ringan yang sudah ditangani, sedangkan untuk kategori kerusakan berat masih belum mendapatkan penanganan.
Usai Diperiksa Polisi Terkait Dugaan Eksploitasi Anak, YouTuber Bigmo Mengaku Sangat Kapok

Di beberapa wilayah lainnya, progres pemulihan menunjukkan hasil yang cukup signifikan. Kabupaten Bireuen telah menyelesaikan rehabilitasi sawah kategori rusak sedang seluas sekitar 677 hektare serta merampungkan optimalisasi lahan seluas sekitar 1.943 hektare. Di Aceh Barat, progres optimalisasi sawah terdampak yang melibatkan 96 kelompok tani di delapan kecamatan telah mencapai sekitar 75 persen, didukung oleh selesainya rehabilitasi jaringan irigasi tersier di 14 titik secara penuh. Selain itu, Tentara Nasional Indonesia (TNI) juga telah menuntaskan pengerjaan rehabilitasi sawah tahap pertama di Aceh Timur dengan cakupan lahan seluas sekitar 1.770 hektare.
Kendati demikian, sejumlah kendala administratif dan faktor cuaca masih membayangi wilayah lain. Di Gayo Lues, penanganan sawah dengan kerusakan ringan telah mencapai 98 persen, namun penanganan terhadap sekitar 1.208 hektare lahan rusak berat masih tertunda karena menunggu diterbitkannya petunjuk pelaksanaan. Di Kota Langsa, realisasi optimalisasi lahan baru menyentuh angka 16,32 persen. Sementara itu, Aceh Besar melaporkan adanya dampak kekeringan yang melanda sekitar 2.000 hektare sawah di 19 kecamatan, dengan realisasi optimalisasi tahap pertama baru mencapai 1.087 hektare atau 47,20 persen dari target pemulihan sekitar 2.303 hektare.






