Nilai tukar rupiah berada di level Rp17.547 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (10/9) sore. Mata uang Garuda tercatat melemah sebesar 36 poin atau 0,21 persen dibandingkan dengan posisi pada perdagangan sebelumnya.
Pengamat pasar uang Lukman menjelaskan bahwa rupiah bersama mayoritas mata uang di kawasan Asia mengalami tekanan terhadap dolar AS. Sentimen negatif ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak mentah dunia.
IHSG Anjlok 1,29%! Babak Belur Dihajar Harga Minyak & Obligasi AS

Selain sentimen geopolitik global tersebut, pergerakan rupiah juga tertekan oleh aksi ambil untung atau profit taking dari para pelaku pasar. Kendati demikian, pelemahan mata uang domestik tertahan oleh rilis data ekonomi dalam negeri. Kinerja penjualan ritel pada bulan Juli tercatat mengalami rebound setelah sempat berada dalam fase kontraksi selama dua bulan berturut-turut, yang turut memberikan sentimen penahan agar depresiasi rupiah tidak semakin dalam.
Pergerakan Mata Uang Asia dan Global
Di kawasan regional Asia, pergerakan mata uang terhadap dolar AS mayoritas ditutup di zona merah. Pelemahan dipimpin oleh won Korea Selatan yang terdepresiasi 0,13 persen, diikuti ringgit Malaysia yang melemah 0,09 persen, peso Filipina terkoreksi 0,05 persen, dolar Singapura turun 0,03 persen, serta yen Jepang yang melemah 0,02 persen. Di sisi lain, yuan China dan dolar Hong Kong berhasil bertahan di zona hijau dengan penguatan tipis masing-masing sebesar 0,01 persen.
Purbaya, Anggaran Buka Rekening 200 Juta Warga Belum Final

Sementara itu, pergerakan mata uang utama lainnya menunjukkan kinerja yang bervariasi. Dolar Australia tercatat terkoreksi sebesar 0,07 persen terhadap dolar AS. Sebaliknya, sejumlah mata uang negara maju menguat terhadap greenback, meliputi poundsterling Inggris yang naik 0,05 persen, euro Eropa menguat 0,03 persen, serta dolar Kanada dan franc Swiss yang sama-sama terapresiasi sebesar 0,01 persen.






