Pergerakan pasar keuangan domestik dibuka bervariasi pada perdagangan Selasa (8/9/2026) pagi. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terpantau melemah tipis, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia berhasil dibuka di zona hijau.
Nilai tukar rupiah turun 5 poin atau 0,03 persen ke level Rp17.645 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Selasa pagi, dari posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.640 per dolar AS. Pada perdagangan Senin (7/9), rupiah sempat menguat tipis 2 poin atau 0,01 persen berkat sentimen positif dari kenaikan cadangan devisa nasional.
Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2026 mencapai 146,5 miliar dolar AS, naik 1,2 miliar dolar AS dibandingkan posisi akhir Juli sebesar 145,3 miliar dolar AS. Kendati demikian, apresiasi rupiah tertahan oleh berbagai sentimen global.
Penjualan Daihatsu Tumbuh 10 Persen, Gran Max dan LCGC Paling Diminati

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa meskipun rilis cadangan devisa memberikan penopang bagi mata uang Garuda, ruang penguatan tetap terbatas karena pelaku pasar masih mengantisipasi peningkatan risiko geopolitik di Timur Tengah. Di samping itu, analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menyebut tekanan terhadap rupiah tetap tinggi menyusul lonjakan harga minyak mentah dunia yang berada di atas level 95 dolar AS per barel.
IHSG dan LQ45 Berbalik Menguat
Berbeda dengan pasar valuta asing, IHSG melaju positif pada awal sesi perdagangan. IHSG dibuka menguat 19,84 poin atau 0,30 persen ke level 6.639,51. Kenaikan ini membalikkan pelemahan pada penutupan Senin (7/9) ketika indeks terkoreksi 16,81 poin atau 0,25 persen ke posisi 6.619,67.
Indeks saham unggulan LQ45 turut bergerak naik 1,31 poin atau 0,20 persen ke level 657,73 pada pembukaan Selasa, setelah sebelumnya turun 1,17 poin atau 0,18 persen ke posisi 656,42.
Karhutla dan Abu Anak Krakatau Ancam Aktivitas Ekonomi hingga Rp 123,1 Triliun

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mencatat bahwa bursa saham kawasan Asia bergerak variatif seiring kehati-hatian investor terhadap eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran pascainsiden saling serang yang melibatkan kapal tanker minyak.
Dari indikator ekonomi global, data ketenagakerjaan AS Change in Nonfarm Payrolls tercatat melonjak dari 21.000 menjadi 162.000. Angka tersebut mengindikasikan pemulihan pasar tenaga kerja AS yang dapat memengaruhi ekspektasi suku bunga acuan The Fed. Selain itu, sentimen penguatan bursa saham global sempat terdorong oleh kenaikan saham teknologi AS pada Jumat (4/9) yang didorong optimisme rilis model kecerdasan buatan terbaru dari OpenAI. Sementara itu, dari dalam negeri, investor tetap mencermati faktor risiko bencana alam seiring peningkatan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.






