Indonesia bersiap untuk melakukan langkah besar dalam hilirisasi industri mineral dengan rencana pembangunan pabrik magnet permanen yang memanfaatkan logam tanah jarang (LTJ). Proyek strategis ini dijadwalkan akan dimulai dalam waktu dekat sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian industri dalam negeri. Chief Technology Officer (CTO) Danantara, Sigit Puji Santosa, mengungkapkan optimismenya bahwa magnet permanen tersebut ditargetkan sudah dapat diproduksi dan tersedia di Indonesia pada tahun 2028 mendatang. Langkah ini menjadi tonggak penting bagi Indonesia dalam mengolah sumber daya alam mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi di dalam negeri.
Secara teknis, magnet permanen ini merupakan produk hilirisasi dari logam tanah jarang yang menggunakan bahan baku NdFeB atau Neodymium-Iron-Boron. Neodymium sendiri merupakan bahan baku utama untuk pembuatan magnet permanen yang sangat dibutuhkan pada motor traksi, yaitu jenis motor listrik yang berfungsi sebagai penggerak kendaraan, khususnya kendaraan listrik (electric vehicle). Di kancah global, persaingan untuk mengamankan rantai pasok mineral kritis ini sangat ketat. Sebagai contoh, perusahaan USA Rare Earth telah mengakuisisi Serra Verde Brasil dengan nilai investasi mencapai US$2,8 miliar atau sekitar Rp48 triliun demi mengamankan pasokan logam tanah jarang sekaligus menekan ketergantungan terhadap pasokan dari Tiongkok. Dalam konteks hubungan internasional, Presiden Prabowo Subianto juga secara aktif mengundang negara mitra seperti Jerman untuk memperkuat investasi mereka di sektor mineral kritis, logam tanah jarang, dan industri semikonduktor di Indonesia.
Pembatasan Pembelian Pertalite bagi Desil 9 dan 10 demi Subsidi Tepat Sasaran

Selain untuk kebutuhan kendaraan listrik, program hilirisasi logam tanah jarang di Indonesia juga memiliki potensi pengembangan yang sangat besar di sektor pertahanan atau defense. Salah satu potensi utama yang diidentifikasi oleh Sigit Puji Santosa adalah pengembangan baja armor. Terkait hal ini, Danantara bersama dengan Krakatau Steel tengah mempertimbangkan dan bahkan telah masuk ke dalam sektor pengembangan baja armor tersebut. Tidak hanya itu, Danantara juga sedang mempersiapkan berbagai material penting lainnya yang dibutuhkan untuk pembuatan semikonduktor, sistem radar, hingga sensor. Seiring dengan perkembangan industri strategis nasional yang semakin transparan ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menaruh harapan agar MSCI dapat memberikan penilaian secara adil terhadap tingkat transparansi pasar modal di Indonesia guna mendukung ekosistem investasi yang sehat.
Untuk merealisasikan dan mengelola seluruh potensi logam tanah jarang tersebut secara terstruktur, Danantara telah mengambil langkah konkret dengan membentuk anak usaha baru bernama PT Perusahaan Mineral Nasional atau Perminas. Badan usaha inilah yang nantinya akan memegang tanggung jawab penuh dalam mengelola komoditas logam tanah jarang di tanah air. Dalam menjalankan mandat besar ini, Danantara tidak berjalan sendiri. Mereka secara aktif menjalin kemitraan strategis dengan kementerian terkait, yaitu Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) untuk memastikan pengembangan industri berjalan selaras dengan kebijakan energi dan kesiapan teknologi nasional.
FMCG Tumbuh Kuat, Konsumsi Masyarakat Jadi Penopang Ekonomi RI

Fokus utama yang kini tengah dikejar oleh Danantara adalah pembangunan dan pengembangan fasilitas pemurnian atau refinery untuk logam tanah jarang. Pembangunan refinery ini dinilai sangat krusial agar Indonesia tidak hanya mampu menambang, tetapi juga memurnikan mineral berharga tersebut secara mandiri. Untuk mewujudkan rencana besar ini, Danantara akan segera mengembangkan proyek refinery tersebut dengan menggandeng berbagai mitra strategis, termasuk para peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta kolaborasi erat dengan kalangan perguruan tinggi. Melalui sinergi antara pemerintah, industri, dan akademisi ini, Indonesia diharapkan mampu menguasai teknologi pengolahan logam tanah jarang dari hulu hingga ke hilir secara mandiri.






