Wakil Gubernur Jawa Timur sekaligus Ketua Satuan Tugas (Satgas) MBG Jatim, Emil Elestianto Dardak, bergerak cepat meninjau penanganan korban dugaan keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) sekaligus meluruskan kabar yang beredar di masyarakat. Emil menegaskan tidak ada korban jiwa dalam insiden keracunan massal yang menimpa ratusan santri di Kabupaten Sidoarjo tersebut.
Penegasan tersebut disampaikan Emil saat meninjau langsung kondisi para santri yang tengah dirawat di RSUD RT Notopuro, Sidoarjo. Ia membantah kabar burung yang menyebutkan insiden itu telah memakan korban meninggal dunia.
"Tolong juga, tadi ada kabar mohon maaf meninggal, itu tidak betul. Tidak ada yang meninggal," ujar Emil di sela kunjungannya di rumah sakit.
Peristiwa dugaan keracunan bermula pada Selasa (1/9), ketika santri di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Kecamatan Tanggulangin, mengonsumsi paket MBG saat makan siang. Berdasarkan data yang dihimpun, sebanyak 431 santri mengalami gejala keracunan dan harus dilarikan ke delapan rumah sakit rujukan guna mendapatkan perawatan medis intensif.
Mengapa Hasil Survei Poltracking dan Median Soal MBG Berbeda?

Pengasuh Ponpes Manbaul Hikam, KH Abdul Wahid Harun, menjelaskan bahwa sekitar 1.000 santri di pondoknya mengonsumsi jatah MBG pada hari tersebut. Ia memastikan sumber makanan yang memicu keracunan massal ini berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, bukan dari makanan yang diolah oleh dapur internal pesantren.
Salah seorang santriwati, SZ (15), menceritakan bahwa paket makan siang yang diterimanya berisi nasi putih, orak-arik telur, tempe bumbu bali, tumis buncis jagung muda (baby corn), serta buah apel. Menurutnya, sayuran yang disantap terasa asam, dan menjelang sore hari tubuhnya mulai terasa mual, lemas, hingga pusing.
Belasan Sekolah Ikut Terdampak dan Dapur SPPG Disuspensi
Dampak dugaan keracunan ini tidak hanya dialami santri Manbaul Hikam. Emil Dardak mengungkapkan terdapat 19 lembaga pendidikan di Kecamatan Tanggulangin yang turut mengeluhkan kondisi serupa akibat mengonsumsi makanan dari penyedia yang sama, yakni SPPG Tanggulangin Kalitengah. Lembaga-lembaga tersebut mencakup jenjang TK, SD, SMP, SMA, hingga pesantren.
Menurut Emil, dari hasil penelusuran administratif, fasilitas SPPG Tanggulangin Kalitengah sebenarnya telah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) serta sertifikasi halal. Sarana dan prasarananya dinilai memadai, dan para petugasnya telah mengikuti sertifikasi penjamah makanan.
BNPB Sebut Kualitas Udara Berbahaya Imbas Kebakaran Hutan

Namun, Emil tidak menutup kemungkinan adanya deviasi di lapangan. Peluang terjadinya masalah tetap ada, baik dari kualitas bahan mentah sejak awal maupun ketepatan waktu pengolahan dan distribusi yang berpotensi menyimpang dari standar operasional prosedur (SOP).
Menindaklanjuti kejadian tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas. Wakil Koordinator BGN Regional Jawa Timur, Teguh Bayu Wibowo, memastikan bahwa operasional dapur SPPG Kalitengah Tanggulangin telah dihentikan sementara atau disuspensi oleh BGN pusat.
Teguh menyatakan status suspensi dapur tersebut diberlakukan sembari menunggu hasil evaluasi menyeluruh serta hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan. Hasil uji lab nantinya akan menentukan apakah suspensi operasional dapur penyedia ini bersifat sementara atau diputuskan permanen.






