Hasil survei mengenai program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dirilis oleh Median Survei Nasional dan Poltracking Indonesia memperlihatkan perbedaan pandangan publik yang cukup mencolok. Di satu sisi, Median mencatat MBG sebagai salah satu faktor pendorong kepuasan tertinggi terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran. Namun di sisi lain, Poltracking mendapati tingginya ketidakpuasan publik hingga munculnya dorongan agar program tersebut dievaluasi atau dihentikan.
Perbedaan angka dari kedua lembaga riset tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai aspek teknis maupun konteks di balik pengambilan data masing-masing survei.
Temuan Median: MBG Jadi Pendorong Kepuasan Utama
Berdasarkan survei nasional yang digelar Median pada periode 21 Juli hingga 2 Agustus 2026, program MBG menempati posisi pertama sebagai pendorong kepuasan publik terhadap kinerja pemerintah. Survei ini melibatkan 1.212 responden dengan margin of error sebesar kurang lebih 2,76 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Median mencatat dua alasan tertinggi publik merasa puas terhadap pemerintah, yaitu program MBG dinilai bermanfaat (11,1 persen) serta program sudah mulai berjalan dan dirasakan manfaatnya (9,2 persen). Dari segi program pemerintah yang paling disukai, MBG unggul di peringkat teratas dengan angka 38,4 persen, melampaui program Sekolah Rakyat yang berada di posisi kedua dengan 15,7 persen.
Mengenai kelanjutan program, sebanyak 36,1 persen responden Median ingin MBG dilanjutkan. Selain itu, ada 34,2 persen responden yang meminta adanya perbaikan terlebih dahulu sebelum program diteruskan. Responden yang menghendaki MBG dihentikan total tercatat sebesar 24,6 persen, sementara 5,1 persen sisanya memilih tidak tahu atau tidak menjawab.
Jadwal China Masters 2026 Hari Ini 2 September, Live di Mana?

Meski demikian, survei Median juga menangkap sejumlah catatan kritis melalui pertanyaan terbuka. MBG tercatat berada di urutan kedelapan dalam daftar masalah prioritas, dengan 3,0 persen responden menilai pelaksanaan MBG menimbulkan pemborosan anggaran dan masih kurang tertata.
Temuan Poltracking: Ketidakpuasan dan Opsi Penghentian
Gambaran berbeda ditunjukkan oleh survei Poltracking Indonesia yang dilakukan pada 14–20 Agustus 2026 terhadap 1.220 responden. Hasil survei ini menunjukkan bahwa proporsi responden yang tidak puas terhadap program MBG lebih tinggi dibandingkan yang merasa puas.
Poltracking melaporkan sebanyak 49,2 persen responden menyatakan tidak puas (gabungan penilaian kurang puas dan sangat tidak puas), sedangkan responden yang merasa puas berada di angka 46,4 persen. Dalam hal sikap terhadap kelanjutan program, sebanyak 44,6 persen responden menginginkan MBG dihentikan, berbanding 42,1 persen responden yang ingin program tetap berjalan.
Di antara kelompok yang menilai program tidak perlu dilanjutkan, alasan paling dominan (19,6 persen) berkaitan dengan masalah teknis makanan di lapangan, seperti rendahnya kualitas rasa dan gizi, ketidaksesuaian lauk yang disajikan, hingga adanya kasus keracunan makanan.
Jadwal Bola Malam Ini 2-3 September 2026, Bayern & Coppa Italia

Atas dasar temuan tersebut, Poltracking menyarankan evaluasi menyeluruh terhadap operasional program, termasuk audit kinerja manajerial Badan Gizi Nasional (BGN). Rekomendasi lain yang disampaikan mencakup opsi moratorium pelaksanaan atau pembatasan program agar hanya difokuskan pada wilayah 3T yang benar-benar membutuhkan.
Faktor yang Memengaruhi Perbedaan Kedua Survei
Perbedaan hasil antara survei Median dan Poltracking dipengaruhi oleh sejumlah variabel metodologis dan dinamika isu di lapangan. Dosen Program Studi Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Riau (UIR), Agung Wicaksono, menjelaskan bahwa disparitas data antarlembaga survei dipicu oleh beberapa faktor utama.
Faktor pertama adalah rentang waktu pelaksanaan (timing). Survei Median dilaksanakan lebih awal, yakni 21 Juli–2 Agustus 2026, sedangkan Poltracking turun ke lapangan pada 14–20 Agustus 2026. Selisih waktu ini memungkinkan adanya pergeseran opini publik seiring munculnya peristiwa tertentu selama pertengahan Agustus, seperti laporan kasus keracunan makanan dan keluhan menu yang tertangkap dalam data Poltracking.
Faktor berikutnya mencakup desain pertanyaan, karakteristik responden yang terpilih, serta konteks sosial-politik yang sedang berkembang ketika survei berlangsung. Redaksi pertanyaan mengenai tingkat kepuasan dan opsi kelanjutan program dapat memicu respons yang berbeda dari publik, bergantung pada fokus evaluasi yang ditekankan oleh masing-masing lembaga survei.






