Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) resmi menggandeng PT Karya Unggulan Anak Bangsa (KUAB) untuk membangun ekosistem budidaya kedelai nasional dari hulu hingga hilir. Kolaborasi ini ditandai lewat penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pemanfaatan lahan perkebunan di Jakarta pada Jumat (11/09).
Penandatanganan tersebut dilakukan oleh Direktur Aset PTPN III (Persero) Agung Setya Imam Efendi bersama Direktur Utama PT KUAB Ali Zum Mashar. Agenda tersebut turut disaksikan langsung oleh Direktur Utama PTPN III (Persero) Denaldy Mulino Mauna serta Pendiri sekaligus Presiden Direktur Arsari Group Hashim S Djojohadikusumo, dengan dihadiri jajaran direksi entitas PTPN I, PTPN IV PalmCo, dan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN).
Langkah ini menandai pergeseran pemanfaatan lahan perkebunan PTPN Group yang kini dioptimalkan secara terintegrasi untuk komoditas pangan strategis. Total potensi lahan indikatif yang disiapkan mencapai sekitar 4.800 hektare, tersebar di Kebun Jalupang (Subang), Kebun Pasir Badak (Sukabumi), Kebun Cikumpay (Purwakarta), Kebun Cibungur (Sukabumi), Kebun Cisalak Baru (Lebak), serta kawasan PG Jatitujuh (Majalengka).
Danantara Ungkap Laba Telkom Bisa Naik 30% Gara-Gara Ini

Sebelum kesepakatan diteken, kedua pihak telah menyelesaikan serangkaian peninjauan lapangan, pengujian kesesuaian lahan, dan pemetaan area usulan. Dalam skema kemitraan ini, entitas PTPN I, PTPN IV PalmCo, dan PT SGN berkontribusi berdasarkan kepemilikan dan pengelolaan area masing-masing. PTPN IV PalmCo juga mengambil peran dalam transfer pengetahuan, pengembangan budidaya, hingga penyerapan hasil panen untuk kebutuhan tanam siklus berikutnya.
Di sisi operasional, PT KUAB bertindak sebagai pelaksana budidaya, penyedia pendanaan, alih teknologi, serta penyedia benih kedelai varietas MIGO.
Saham Bayan Anjlok 5,73 Persen Usai Kabar Akuisisi Haji Isam

Sebagai langkah awal pada 2026, kemitraan ini akan menjalankan proyek percontohan seluas 50 hektare di setiap lokasi yang telah ditetapkan. Hasil evaluasi dari proyek percontohan tersebut nantinya menjadi acuan dasar sebelum ekspansi lahan dilakukan dalam skala yang lebih besar pada 2027.
Hashim S Djojohadikusumo menyatakan harapannya agar pengembangan ini dapat mendorong target swasembada kedelai dalam waktu 3 hingga 4 tahun ke depan, terutama dalam memasok kebutuhan benih berkualitas bagi koperasi dan petani di berbagai wilayah Indonesia.






