Rangkaian aktivitas seismik terus membayangi wilayah Indonesia yang berada di jalur Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire. Kawasan pertemuan lempeng tektonik aktif yang sekaligus menjadi rumah bagi ratusan gunung berapi ini membuat masyarakat kerap merasakan dua jenis getaran utama, yakni gempa tektonik dan gempa vulkanik.
Secara karakteristik pemicu, gempa tektonik merupakan jenis gempa bumi yang paling umum terjadi di dunia. Gempa ini bersumber dari pelepasan energi secara mendadak akibat pergeseran lempeng tektonik di dalam kerak bumi. Sementara itu, gempa vulkanik berkaitan langsung dengan dinamika magma di dalam perut gunung berapi. Getaran timbul akibat desakan magma yang bergerak naik menembus batuan sekitar serta tingginya tekanan gas di dalam kantong magma. Pola dan frekuensi gempa vulkanik inilah yang rutin dipantau para ahli vulkanologi untuk menentukan tingkat aktivitas gunung api, dari Level I (Normal) hingga Level IV (Awas).
Kebakaran Gudang Palet di Krian Sidoarjo, Jalur Surabaya-Mojokerto Ditutup

Perbandingan Skala Bahaya dan Kerusakan
Jika ditinjau dari skala jangkauan dan potensi kehancuran infrastruktur, gempa tektonik lebih berbahaya dibandingkan gempa vulkanik. Pelepasan energi dari pergeseran lempeng bumi mampu menjangkau wilayah yang sangat luas dan berpotensi merusak bangunan secara masif. Selain itu, gempa tektonik yang berpusat di bawah laut memiliki peluang lebih besar untuk membangkitkan gelombang tsunami dibandingkan gempa di daratan.
BPBD Jatim Kerahkan Helikopter Water Bombing Padamkan Kebakaran Gunung Bromo

Kendati gempa tektonik memiliki daya rusak skala luas yang lebih tinggi, tingkat ancaman sebuah gempa pada kenyataannya dipengaruhi oleh kombinasi faktor teknis di lapangan. Bahaya nyata tidak hanya ditentukan oleh jenis getarannya, melainkan kedalaman pusat gempa (hiposentrum), jarak titik gempa ke permukiman, kondisi struktur tanah setempat, serta kualitas ketahanan konstruksi bangunan di kawasan terdampak.






