Laba bersih PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) berpeluang melonjak signifikan seiring percepatan transformasi bisnis yang tengah dijalankan. Badan Pengaturan (BP) BUMN bersama Danantara Indonesia mendorong perampingan (streamlining) portofolio anak usaha agar emiten telekomunikasi pelat merah tersebut memiliki struktur yang lebih ramping, efisien, dan terarah.
Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia Dony Oskaria menyatakan optimisme terhadap dampak positif restrukturisasi operasional ini. Dony menilai pengurangan entitas yang membebani kinerja keuangan akan langsung mendongkrak margin keuntungan perseroan ke depan.
"Saya yakin kalau (streamlining) ini selesai, laba Telkom paling tidak naik 30%," ujar Dony dalam keterangannya yang diunggah akun resmi @bumn_id, Jumat (11/9/2026).
Saham Bayan Anjlok 5,73 Persen Usai Kabar Akuisisi Haji Isam

Target Pemangkasan Entitas Anak Usaha
Dalam peta jalan transformasinya, Telkom menargetkan pengurangan drastis terhadap jumlah anak perusahaan. Dari total 68 entitas anak yang beroperasi saat ini, perseroan berencana memangkasnya hingga menyisakan 18 entitas saja.
Direktur Utama Telkom Dian Siswarini memaparkan bahwa langkah perampingan tersebut menyasar berbagai lini, terutama di bawah segmen Business-to-Business Information and Communication Technology (B2B ICT). Dian menyebutkan entitas seperti PINS, Telkom SIGMA, dan Infomedia masuk ke dalam daftar anak usaha yang akan terkena program streamlining tersebut.
Transformasi ini diarahkan untuk mempertegas posisi Telkom sebagai strategic holding yang berfokus penuh pada lini konektivitas dan infrastruktur digital nasional.
Mengintip Harta Haji Isam yang Diisukan Borong 62,2 Persen Saham Bayan

Konsekuensi Biaya dan Alokasi Modal
Langkah penataan portofolio bisnis ini menuntut penyesuaian finansial yang cukup besar. Manajemen Telkom memperkirakan total cut loss beserta seluruh implikasi dari agenda streamlining dan write off ini mencapai sekitar Rp17 triliun.
Kendati menghadapi biaya restrukturisasi, perseroan terus memperkuat disiplin alokasi permodalan pada bisnis inti. Sepanjang paruh pertama tahun 2026, lebih dari 94% belanja modal (capex) TLKM telah dialokasikan langsung untuk mendukung bisnis inti B2C serta penguatan infrastruktur B2B.






