PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menyatakan optimismenya dalam mengejar target produksi batu bara sebesar 48 juta ton pada tahun 2026. Sejalan dengan pemenuhan target volume tersebut, emiten pertambangan pelat merah ini juga berkomitmen untuk memenuhi kewajiban pasokan batu bara bagi kebutuhan dalam negeri atau Domestic Market Obligation (DMO) hingga 50 persen dari total produksinya.
Strategi dan prospek operasional perseroan tersebut dipaparkan oleh Direktur Utama PTBA, Bambang Ismawan, saat mengulas arah bisnis perusahaan bersama Mercy Widjaja dalam program Closing Bell CNBC Indonesia pada Jumat (04/09/2026).
Dinamika Pasokan Kalori dan Permintaan Global
Dalam keterangannya, kondisi pasar saat ini menunjukkan bahwa pasokan batu bara berkalori tinggi terus mengalami penurunan. Situasi ini menyisakan porsi produksi batu bara pada segmen kalori menengah dan kalori rendah.
Cegah Defisit Belanja, Negara Ini Pilih Jual Saham BUMN

Kendati demikian, prospek komoditas ini dinilai tetap positif. Tingginya permintaan pasar global terhadap batu bara kalori menengah, yang didorong oleh gejolak di kawasan Timur Tengah, membuat tingkat permintaan dan harga komoditas batu bara masih bertahan cukup kuat.
Proyek Hilirisasi DME dan Elektrifikasi Tambang
Guna memperkuat ketahanan energi sekaligus memberi nilai tambah, PTBA terus memacu proyek hilirisasi batu bara pada 2026. Langkah strategis ini diwujudkan melalui proyek gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME), produk yang diproyeksikan dapat menggantikan peran Liquefied Petroleum Gas (LPG).
Bisnis Ayah-Anak Ini Beli Mal di Orchard Road, Harganya Rp4,3 Triliun

Realisasi fisik dari proyek hilirisasi ini terus dipersiapkan, dengan target pengerjaan konstruksi pabrik gasifikasi batu bara yang dijadwalkan dapat dimulai pada tahun 2027 mendatang.
Di samping memperkuat rantai nilai batu bara, PTBA juga mendorong agenda diversifikasi melalui ekspansi bisnis di luar sektor batu bara. Pada akhir tahun 2026, perseroan membidik pencapaian target produksi yang diiringi dengan upaya menekan ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM) melalui transisi ke operasional armada kendaraan tambang listrik.






