Bank Indonesia diperkirakan masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate hingga akhir tahun. Berdasarkan analisis dari ekonom Bank Danamon, Irman Faiz, peluang kenaikan suku bunga acuan ini diperkirakan dapat terjadi sebanyak dua kali lagi, dengan masing-masing peningkatan sebesar 25 basis poin. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Irman setelah menghadiri acara Media Luncheon dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-70 Danamon yang diselenggarakan di Jakarta pada hari Selasa, 14 Juli 2026. Proyeksi kenaikan ini dinilai sebagai langkah yang diperlukan apabila tekanan terhadap nilai tukar rupiah akibat ketidakpastian kondisi perekonomian global masih terus berlanjut.
Meskipun ruang untuk penyesuaian suku bunga masih terbuka lebar, realisasi kenaikan BI Rate tersebut akan sangat bergantung pada dinamika kondisi global. Irman menjelaskan bahwa arah kebijakan Bank Indonesia ke depan akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan situasi di luar negeri, terutama terkait dengan tensi geopolitik yang sedang berlangsung serta tingkat volatilitas di pasar keuangan internasional. Apabila kondisi global nantinya berangsur membaik, Bank Indonesia kemungkinan besar tidak perlu memanfaatkan seluruh ruang kenaikan suku bunga tersebut. Faktor-faktor eksternal ini menjadi penentu utama karena pergerakan nilai tukar rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen dari luar negeri, khususnya perkembangan konflik geopolitik dan fluktuasi harga minyak dunia.
Bahlil Sebut Perusahaan Asal Rusia Rusal Bakal Bangun Pabrik Pemurnian Bauksit di Kalimantan

Di tengah ketidakpastian global tersebut, tekanan terhadap nilai tukar rupiah saat ini dinilai masih relatif terkendali. Kondisi ini terjadi karena lonjakan harga minyak dunia ternyata belum sebesar yang dikhawatirkan oleh para pelaku pasar sebelumnya. Jika eskalasi konflik geopolitik tidak terlalu besar, dampaknya terhadap pergerakan rupiah juga akan relatif terbatas, yang pada akhirnya dapat menjadi sentimen positif bagi nilai tukar ke depannya. Selain itu, kepercayaan pasar internasional terhadap ketahanan ekonomi nasional juga tetap terjaga. Hal ini tercermin dari keputusan lembaga pemeringkat Standard & Poor's (S&P) Global Ratings yang tetap mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level BBB dengan prospek yang stabil. Penilaian tersebut menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih dinilai kuat meskipun berbagai kebijakan pemerintah saat ini sedang berada dalam masa transisi.
Untuk menjaga stabilitas perekonomian nasional, mengandalkan kebijakan moneter dari Bank Indonesia saja tidaklah cukup. Pemerintah perlu terus menjaga disiplin fiskal demi memelihara tingkat kepercayaan para investor. Disiplin anggaran ini sangat krusial agar arah transformasi kebijakan pemerintah yang dinilai sudah positif oleh S&P dapat dieksekusi dengan baik. Di samping itu, pemerintah juga diingatkan untuk memastikan bahwa penerimaan negara, khususnya dari sektor perpajakan, dapat terealisasi sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Pemenuhan target penerimaan ini sangat penting agar ruang belanja untuk mendorong pertumbuhan ekonomi tetap aman dan stimulus yang disiapkan dapat berjalan secara optimal.
Cegah Defisit Belanja, Negara Ini Pilih Jual Saham BUMN

Dengan pengelolaan fiskal yang disiplin dan penerimaan negara yang terjaga, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal ketiga tahun 2026 berpeluang untuk menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi pada paruh kedua tahun ini sangat didorong oleh potensi meningkatnya realisasi belanja pemerintah. Akselerasi belanja negara tersebut diharapkan mampu menjadi motor penggerak utama dalam meningkatkan tingkat konsumsi masyarakat secara lebih luas serta merangsang peningkatan investasi di berbagai sektor. Melalui sinergi yang kuat antara kebijakan moneter yang adaptif dan disiplin fiskal yang konsisten, Indonesia diharapkan mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonominya di tengah berbagai tantangan global.






