Dunia seni rupa Indonesia tengah berduka atas kepergian salah satu tokoh pentingnya. Nasirun, seorang maestro pelukis dan perupa yang dikenal luas dengan bahasa visual berbasis kebudayaan Jawa, meninggal dunia pada hari Sabtu (1/8). Seniman yang tutup usia pada umur 60 tahun tersebut mengembuskan napas terakhirnya saat berada di Rumah Sakit AMC Muhammadiyah Yogyakarta. Setelah rangkaian prosesi perawatan, jenazah sang maestro kemudian dimakamkan di Makam Seniman Girisapto, yang berlokasi di kawasan Imogiri, Kabupaten Bantul. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi panggung seni rupa nasional yang selama ini diwarnai oleh karya-karyanya.
Perjalanan hidup dan karier Nasirun bermula dari kota kelahirannya di Cilacap, di mana ia dilahirkan pada tanggal 1 Oktober 1965. Ketertarikannya pada dunia seni membawanya untuk menempuh pendidikan formal di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta. Setelah menyelesaikan pendidikan tingkat menengah tersebut, ia memantapkan langkahnya dengan melanjutkan studi ke Jurusan Seni Lukis di Fakultas Seni Rupa (FSR) Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Nasirun menimba ilmu di institusi seni terkemuka tersebut hingga akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikannya dan dinyatakan lulus pada tahun 1994.
Kiprah Nasirun di dunia seni rupa mulai menonjol bahkan sebelum ia resmi lulus dari ISI Yogyakarta. Perjalanan karier profesionalnya tercatat dimulai dari sebuah pameran tunggal yang diselenggarakan di Mirota Kampus pada tahun 1993. Pameran tersebut menjadi batu loncatan yang membawanya melangkah lebih jauh. Seiring berjalannya waktu, karya-karyanya berhasil menembus panggung internasional melalui keikutsertaannya dalam berbagai ajang bergengsi, seperti Singapore Biennale dan Beijing International Art Biennale. Tidak hanya itu, Nasirun juga sukses memamerkan karya-karyanya melalui pameran tunggal yang digelar di Tokyo, Jepang.
Daryono Gempa Pangalengan Bukan Pertanda Pasti Adanya Gempa Besar

Ciri khas Nasirun sebagai seorang perupa terlihat jelas dari penggunaan elemen mitologi Jawa, karakter pewayangan, aksara, serta ornamen tradisional dalam tiap karyanya. Alih-alih sekadar menjiplak bentuk tradisi yang sudah ada, sang pelukis mengubah wujud aslinya secara ekspresif untuk menciptakan sebuah komposisi personal yang berlapis dan padat makna. Nilai spiritualitas yang dihadirkan dalam lukisannya juga sangat inklusif, di mana karya-karyanya merepresentasikan ketulusan hubungan manusia dengan kekuatan transenden tanpa membatasinya pada satu doktrin agama saja. Nasirun juga dikenal berani merespons berbagai medium non-konvensional. Ia kerap melukis di atas permukaan kayu, furnitur, kemasan produk, surat undangan, hingga benda pusaka tradisional seperti blawong atau penyangga keris. Eksplorasi medium yang tidak biasa ini semakin mengukuhkan posisinya sebagai perupa kontemporer yang tidak pernah menanggalkan identitas lokalnya.
Di luar aktivitasnya melukis di depan kanvas atau medium lainnya, Nasirun memiliki peran vital sebagai seorang kolektor dan pengarsip seni. Di studionya yang terletak di kawasan Bayeman, Yogyakarta, ia menyediakan ruang khusus untuk menyimpan ribuan karya dan dokumen penting milik para seniman Indonesia. Studio tersebut menjadi rumah bagi arsip-arsip berharga, termasuk dokumen peninggalan Emiria Soenassa dan Danarto. Langkah pengarsipan mandiri yang dilakukannya dinilai sebagai sebuah usaha penting untuk menyelamatkan kepingan sejarah seni rupa nasional yang kerap kali luput dari perhatian institusi resmi.
Bocah 14 Tahun di Yogya Curi Rp 200 Ribu dari Kotak Infak, Takmir Masjid Maafkan

Kepergian Nasirun meninggalkan warisan artistik yang sangat mendalam bagi sejarah kebudayaan tanah air. Sosoknya dinilai sukses menjadi jembatan penghubung antara tradisi seni lukis modern khas Yogyakarta dan arus dinamika seni kontemporer di tingkat global. Melalui dedikasinya sepanjang hayat, sang seniman membuktikan bahwa kebudayaan Jawa dapat terus digali sebagai sumber imajinasi yang tidak ada habisnya bagi para perupa di masa mendatang. Tempat peristirahatan terakhirnya di Makam Seniman Girisapto kini menjadi saksi bisu atas perjalanan panjang seorang pelukis eksentrik yang mendedikasikan hidupnya untuk merawat dan memajukan seni rupa Indonesia.






