Rencana aksi korporasi mewarnai dinamika pasar, di mana PRDA bersiap melakukan pembelian kembali (buyback) saham dengan alokasi dana maksimal Rp150 miliar dari kas internal. Pada saat yang sama, GMFI juga tengah mengembangkan bisnis Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) untuk segmen pertahanan. Kedua langkah perseroan ini menjadi sorotan di tengah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sedang mengalami tekanan.
Perdagangan saham pada Rabu (19/8) berakhir dengan IHSG berada di zona merah, turun 0,86 persen ke level 6.394,13. Pelemahan ini turut dipicu oleh saham BYAN yang anjlok 9,41 persen. Penurunan BYAN menjadi salah satu pemberat IHSG dengan kontribusi sekitar 26,63 poin setelah saham tersebut sebelumnya mencatat Auto Reject Atas (ARA) selama dua perdagangan berturut-turut. Mayoritas sektor turut mengalami koreksi, di mana sembilan dari 11 sektor melemah, termasuk sektor Basic Materials yang turun 1,21 persen. Sebaliknya, sektor Infrastructures masih mampu menguat 0,43 persen.
Selain BYAN, tekanan terhadap laju indeks datang dari AMMN yang turun 2,59 persen dan CASA yang terkoreksi 4,00 persen. Kendati demikian, sejumlah saham masih mampu mencatat penguatan dan menopang pergerakan indeks, seperti DSSA yang naik 6,67 persen, disusul MEDC yang menguat 6,34 persen, serta ISAT sebesar 5,38 persen. Dari sisi aktivitas investor asing, tercatat aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp488,49 miliar di pasar reguler. Namun secara keseluruhan pasar, investor asing masih membukukan beli bersih (net buy) mencapai Rp933,53 miliar.
Panduan Memahami Proses Akuisisi 100 Persen Bisnis SPBU Shell oleh Sefas Group

Kondisi pasar domestik ini terjadi di tengah pergerakan bursa Amerika Serikat yang berakhir positif. Tiga indeks utama Wall Street menguat, dengan Dow Jones naik 0,22 persen ke level 53.463, S&P 500 bertambah 0,21 persen menjadi 7.707, dan Nasdaq menguat 0,16 persen ke posisi 26.331. Sementara itu, pergerakan indeks yang merepresentasikan saham Indonesia di pasar global berlangsung beragam, di mana ETF EIDO naik 0,16 persen dan MSCI Indonesia turun 0,25 persen.
Terkait aksi korporasinya, PRDA menyiapkan dana maksimal Rp150 miliar untuk buyback tanpa memerlukan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Langkah ini mengacu pada POJK 13/2023 dan Surat OJK No. S-10/2026. Jumlah saham yang dibeli kembali dibatasi maksimal 20 persen dari modal disetor, yang di dalamnya sudah memperhitungkan saham hasil buyback pada 2025 yang tercatat sebagai treasury stock sebesar 5,09 persen. Jika seluruh rencana terealisasi, proforma laporan keuangan per 31 Desember 2025 memperkirakan total aset PRDA menjadi Rp2,55 triliun dari sebelumnya Rp2,70 triliun, dengan ekuitas turun menjadi Rp2,24 triliun. Laba per saham diperkirakan meningkat menjadi Rp240,33 dan ROE diproyeksikan naik menjadi 8,5 persen. Periode pelaksanaan buyback ditetapkan pada 20 Agustus hingga 19 November 2026.
Keringanan Pajak PBJT 50 Persen untuk Pemutaran Film Nasional di Jakarta

Di sisi lain, GMFI menargetkan kontribusi pendapatan dari bisnis MRO pertahanan dapat mencapai 20 persen pada 2030, meningkat dari proyeksi sekitar 10 persen pada 2026. Pengembangan segmen ini didukung oleh potensi peningkatan kebutuhan pemeliharaan armada dalam program modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista), termasuk penyelesaian modernisasi pesawat C-130H Hercules. GMFI juga mengembangkan Kertajati Aerospace Park yang diarahkan menjadi ekosistem MRO pertahanan serta membuka peluang perluasan layanan ke pasar internasional. Pada semester I 2026, pendapatan GMFI tumbuh 20,53 persen secara tahunan menjadi US$114,94 juta dengan laba bersih melonjak 78,28 persen menjadi US$6,76 juta. Sepanjang 2026, perseroan mematok target pendapatan US$542,79 juta dan laba bersih US$34,47 juta.
Kinerja positif turut dicatatkan oleh ENRG pada paruh pertama 2026 dengan pendapatan mencapai US$283,37 juta, naik 18,51 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini sejalan dengan peningkatan EBITDA sebesar 24,82 persen menjadi US$186,28 juta. Laba bersih ENRG juga tumbuh 26,37 persen menjadi US$45,22 juta, didukung oleh kontribusi aset minyak dan gas yang telah berproduksi. Dari sisi pergerakan saham, ENRG saat ini masih berada dalam fase konsolidasi jangka pendek dan secara teknikal memiliki peluang bergerak menuju level Rp1.345 setelah mengalami penolakan (rejection) pada area support. Sebagai tambahan, beberapa saham yang mendapat rekomendasi teknikal mencakup TINS, MEDC, dan SSIA, dengan catatan bahwa segala keputusan transaksi tetap bergantung pada analisis mandiri pelaku pasar.






