Aksi protes massal melanda sejumlah wilayah di Provinsi Jawa Tengah pada Senin, 10 Agustus 2026. Para peternak yang tergabung dalam Koperasi Peternak Unggas Sejahtera (KPUS) menggelar demonstrasi serentak di beberapa kabupaten untuk menyuarakan himpitan ekonomi yang kian mendalam. Situasi ini memicu keprihatinan luas karena mencerminkan kondisi riil di mana Harga Pakan Naik, Harga Telur Turun, Peternak Unggas Tercekik |Republika Online menjadi kenyataan sehari-hari yang harus dihadapi para pelaku usaha kecil. Demonstrasi ini dilangsungkan di wilayah Kendal, Temanggung, Magelang, Pekalongan, Wonosobo, Pati, Grobogan, dan Boyolali.
Ketua KPUS Jawa Tengah, Suwardi, mengungkapkan bahwa ketidakseimbangan harga ini telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir. Dari periode April hingga Agustus, harga pakan ternak mengalami kenaikan signifikan sebesar 25 persen. Sebaliknya, harga telur ayam di tingkat peternak terus merosot sejak bulan Mei hingga menyentuh titik terendah sebesar Rp 15.000 per kilogram di kandang pada bulan Agustus. Bagi 1.767 anggota peternak KPUS yang tersebar di 10 kabupaten dan kota di Jawa Tengah, kondisi ini membuat biaya operasional jauh lebih besar daripada pendapatan yang diterima.
Di tengah kondisi sulit ini, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diharapkan menjadi solusi pasar justru dinilai belum memberikan dampak yang signifikan bagi kesejahteraan peternak. Terdapat perbedaan pandangan yang cukup mencolok antara kebijakan dari otoritas pusat dan realisasi pembelian di lapangan. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, sebelumnya telah menyarankan agar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) membeli telur ayam di tingkat kandang dengan harga Rp 25.000 per kilogram. Namun pada kenyataannya, harga pembelian oleh SPPG untuk kebutuhan MBG masih tergolong rendah, yakni berkisar antara Rp 21.000 hingga Rp 22.000 per kilogram, dan nominal tersebut sudah mencakup biaya pengantaran sampai ke lokasi.
Panduan Program 170 Ribu Tiket Domestik Gratis Garuda Indonesia untuk Turis Asing

Ketidaksesuaian harga ini diperparah oleh minimnya peran Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) di tingkat wilayah bawah. Menurut perwakilan peternak, KPPG tidak memiliki pengaruh besar karena seluruh rantai pasok dan keputusan harga dikendalikan langsung oleh pemilik atau pengelola dapur. Sebagai contoh, kasus di Kabupaten Kendal menunjukkan bahwa hanya ada beberapa pengelola dapur yang berkomitmen membeli telur dengan harga Rp 26.000 per kilogram. Sebagian besar transaksi lainnya masih menggunakan harga rendah yang memberatkan peternak mandiri.
Sebagai upaya meringankan biaya produksi pakan, para peternak menuntut adanya penambahan kuota jagung Subsidi Pangan dan Stabilisasi Pasokan (SPHP). Jagung SPHP saat ini dihargai Rp 5.500 per kilogram hingga sampai ke tangan peternak, yang dinilai sangat membantu menekan biaya pakan. Harga tersebut jauh lebih murah dibandingkan dengan harga jagung di pasaran umum yang saat ini sudah mencapai kisaran Rp 6.800 hingga Rp 7.000 per kilogram. Penurunan harga pakan secara umum dan penambahan pasokan jagung subsidi ini menjadi tuntutan utama yang disuarakan dalam aksi unjuk rasa tersebut.
Langkah Strategis Multifinance Menggarap Potensi Pasar Pembiayaan di Indonesia

Meskipun perwakilan KPUS telah melakukan pertemuan dan rapat koordinasi dengan Gubernur Jawa Tengah serta Menteri Pertanian, solusi nyata yang berpihak pada peternak belum kunjung terlihat. Jika tidak ada perubahan regulasi atau intervensi harga yang konkret dalam waktu dekat, para peternak menegaskan rencana mereka untuk membawa aksi ini ke tingkat nasional. Mereka bersiap mendatangi Istana Negara untuk melakukan aksi unjuk rasa dan meminta perlindungan langsung dari Presiden agar kelangsungan usaha peternakan unggas di daerah dapat diselamatkan.






