Upaya pemulihan dan penguatan ketahanan pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) terus digencarkan di wilayah Nusa Tenggara Timur pascabencana gempa bumi yang terjadi pada 15 Agustus. Melalui titik distribusi strategis di Fuel Terminal (FT) Reo, PT Pertamina Patra Niaga menjaga kelancaran pasokan energi untuk masyarakat di wilayah Manggarai Raya serta kawasan sekitarnya.
Langkah penguatan ini mencakup pengiriman kargo BBM lewat jalur laut secara berkelanjutan, penyaluran avtur untuk sektor penerbangan, hingga rekayasa distribusi darat guna menembus jalur transportasi yang sempat terputus.
Penguatan Pasokan Jalur Laut Melalui Fuel Terminal Reo
Fuel Terminal (FT) Reo berfungsi sebagai pusat penerimaan dan penyaluran utama untuk mengamankan kebutuhan energi di daratan Flores bagian barat. Pada Senin (24/8), kapal MT Musi bersandar di dermaga FT Reo untuk menyalurkan kargo sebanyak 200.000 liter BBM jenis Pertalite.
Pembongkaran muatan tersebut disesuaikan dengan batas kapasitas aman (safe capacity) tangki penyimpanan FT Reo. Sebelum kargo MT Musi masuk, tangki penerimaan di terminal masih mencatat stok 300.000 liter dari total daya tampung 500.000 liter. Masuknya pasokan baru ini memastikan kapasitas tangki terisi optimal untuk memenuhi konsumsi harian.
MT Musi merupakan armada kapal pengangkut ke-4 yang merapat di dermaga FT Reo sejak Selasa (18/8), atau tiga hari setelah guncangan gempa bumi. Secara kumulatif, total pasokan BBM yang masuk dan disalurkan lewat FT Reo sejak bencana melanda telah menembus angka sekitar 2.000.000 liter, yang mencakup produk Pertalite, Pertamax, Biosolar, hingga Avtur. Setelah menyelesaikan proses bongkar muat di Reo, MT Musi dijadwalkan langsung bertolak menuju Fuel Terminal Waingapu guna menyuplai kebutuhan wilayah Sumba.
Empat Kategori Baru dalam Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026 Sejalan dengan Asta Cita

Penanganan Kendala Distribusi Darat di Wilayah Terdampak
Pasokan Pertalite yang dikelola FT Reo dialokasikan untuk melayani area operasional di tiga wilayah administratif, yakni Kabupaten Manggarai, Kabupaten Manggarai Barat, dan sebagian Kabupaten Manggarai Timur. Tantangan operasional pascabencana muncul akibat kerusakan infrastruktur jalan darat.
Akses transportasi di Manggarai Timur yang mengarah ke SPBU Borong/Kota sempat mengalami keterputusan. Kondisi ini menuntut penyesuaian strategi logistik agar pasokan BBM tetap mencapai fasilitas pengisian akhir.
Skema Langsir dan Pengiriman Bertahap
Untuk mengatasi hambatan infrastruktur tersebut, Pertamina menerapkan sejumlah strategi mitigasi distribusi:
- Pelangsiran Manual: BBM dialihkan dari mobil tangki ke dalam wadah drum, kemudian diangkut melintasi titik jalan yang rusak atau jembatan darurat menuju SPBU tujuan.
- Mobil Tangki Kapasitas Khusus: Penyaluran langsung mulai diuji coba secara penuh menggunakan mobil tangki berkapasitas 8.000 liter begitu jalur penghubung menuju Borong dapat dilalui kendaraan operasional secara terbatas.
Pengamanan Pasokan Avtur untuk Bandara Komodo
Selain pasokan BBM untuk moda transportasi darat, ketahanan bahan bakar penerbangan juga menjadi prioritas. Pada hari yang sama, Senin (24/8), kapal MT Kilian dijadwalkan bersandar di dermaga FT Reo dengan membawa muatan sekitar 500.000 liter Avtur.
Kemensos Gelar Layanan Psikososial untuk Korban Gempa di Sikka

Kargo bahan bakar penerbangan ini diarahkan langsung menuju Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) Komodo di Labuan Bajo. Pasokan tersebut dipersiapkan guna mengantisipasi peningkatan lalu lintas penerbangan di Bandara Komodo, yang didorong oleh mobilitas penanganan pascabencana sekaligus aktivitas penerbangan selama musim puncak wisata (peak season).
Mitigasi Risiko dan Imbauan bagi Masyarakat Konsumen
VP Corporate Communication PT Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menyampaikan bahwa sistem distribusi energi di kawasan terdampak kini berada dalam kondisi terkendali dan berangsur pulih. Masyarakat diimbau untuk membeli BBM secara wajar dan menghindari tindakan pembelian berlebih (panic buying).
Mengingat potensi gempa susulan masih dapat terjadi, konsentrasi antrean kendaraan atau kerumunan warga yang terlalu padat di area SPBU memiliki risiko keselamatan tersendiri. Kepadatan yang berlebihan dikhawatirkan dapat menghambat proses evakuasi apabila terjadi situasi darurat di area SPBU.






