Langkah dekarbonisasi di sektor manufaktur farmasi kian nyata dengan mulai beroperasinya fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap berkapasitas 2,2 MWp di Pasuruan, Jawa Timur. Fasilitas energi surya ini dipasang di area pabrik PT Widatra Bhakti, produsen larutan parenteral dasar yang bernaung di bawah Otsuka Group, guna menekan jejak karbon sekaligus mendorong efisiensi energi secara berkelanjutan.
Operasional sistem pembangkit ramah lingkungan ini diproyeksikan mampu memproduksi energi bersih sekitar 2.990.007 kWh per tahun. Dari suplai listrik tersebut, reduksi emisi karbon yang dihasilkan ditaksir mencapai 2.326 ton CO2 setiap tahunnya, setara dengan dampak positif penanaman sekitar 38.615 pohon.
Kolaborasi Pengembang dan Komitmen Nol Emisi
Pembangunan infrastruktur energi surya ini menggandeng PT Surya Nippon Nusantara (SNN), perusahaan patungan bentukan SUN Energy dan Sojitz Corporation. Dalam proyek transisi energi ini, SNN memegang peran penuh sebagai pengembang yang menangani tahapan konstruksi, pengoperasian, hingga pemeliharaan sistem PLTS Atap secara berkala untuk menjaga stabilitas daya.
Soal Merger BUMN Karya, Bos Danantara Ungkap Kabar Terbaru

Inisiatif pemanfaatan PLTS Atap 2,2 MWp ini sejalan dengan peta jalan lingkungan PT Widatra Bhakti dalam mencapai target Net Zero pada 2050. Pemanfaatan energi surya melengkapi rekam jejak perseroan yang sebelumnya telah membeli Sertifikat Energi Baru Terbarukan (Renewable Energy Certificate/REC) dari PT PLN (Persero) pada April 2022.
Di tingkat operasional harian, perusahaan juga mengintegrasikan prinsip ramah lingkungan ke dalam budaya kerja karyawan. Upaya internal tersebut mencakup pembatasan penggunaan air minum dalam kemasan dan peralatan makan sekali pakai, serta pemberlakuan program Bring Your Own Tumbler (BYOT).
Bulan Depan Danantara Kebut Selesaikan Masalah Pembangunan LRT City

Penerapan energi hijau di lini industri manufaktur ini bergulir di tengah pertumbuhan pembiayaan berkelanjutan nasional. Sebagai gambaran tren pendukung, penyaluran pinjaman berkelanjutan dari perbankan seperti SMBC Indonesia tercatat menembus hampir Rp17,3 triliun per akhir September 2024, naik 18 persen dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya.






