berputar.id
BerandaNewsHukumBeritaEkonomiNasionalInternasionalOtomotifKeuanganOlahragaTeknologiPolitikMegapolitanPopuler
Beranda/Ekonomi

Perjalanan Go Soe Loet Membangun Kapal Api dari Kopi Rumahan di Surabaya

Ance RundenganDiterbitkan 8 Agu 2026 - 19.36 路 0 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Perjalanan Go Soe Loet Membangun Kapal Api dari Kopi Rumahan di Surabaya
Foto/Ilustrasi: cnbcindonesia.com.
A-A+

Kisah sukses kopi Kapal Api bermula dari langkah berani seorang imigran asal Fujian, China, bernama Go Soe Loet. Pada dekade 1920-an, ia mendarat di Surabaya dan mulai merintis usaha kopi rumahan demi menyambung hidup di tanah rantau. Bisnis ini dijalankan dengan ketelitian tinggi dan penuh kesabaran, di mana Go Soe Loet memilih sendiri biji kopi berkualitas terbaik sebelum digoreng dan ditumbuk secara manual hingga menjadi bubuk halus. Kopi bubuk hasil olahannya kemudian dijajakan secara sederhana dari pasar ke pasar lokal. Usaha berskala kecil ini menjadi fondasi awal dari imperium bisnis kopi yang kelak mendominasi pasar Indonesia.

Perjalanan Go Soe Loet tidaklah mulus karena ketatnya persaingan bisnis pada masa itu. Sebagaimana dicatat oleh Muhammad Ma'ruf dalam bukunya yang berjudul "50 Great Business Ideas From Indonesia" (2010:31), Go Soe Loet harus berhadapan dengan banyak kompetitor yang juga menawarkan produk sejenis. Untuk membedakan produknya dari para pesaing, ia memutar otak dan memutuskan untuk mengemas kopinya menggunakan kertas berwarna cokelat. Kemasan tersebut diberi merek HAP Hootjan, sebuah nama yang berarti Kapal Api. Penamaan unik ini lahir dari kenangan pribadinya saat menumpang kapal api bertenaga uap dalam perjalanan migrasinya menuju Pulau Jawa.

berputar.id

Copyright 2026 berputar.id - All Rights Reserved.

Kategori

NewsHukumBeritaEkonomiNasionalInternasionalOtomotifKeuanganOlahragaTeknologiPolitikMegapolitan

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap

Bisnis keluarga ini kemudian memasuki babak baru ketika putra Go Soe Loet, Go Tek Whie, mulai terlibat aktif dalam operasional sehari-hari. Go Tek Whie, yang dididik secara disiplin dan dilibatkan langsung dalam setiap proses produksi kopi sejak muda, kemudian lebih dikenal luas dengan nama Soedomo Mergonoto. Pada era 1970-an, Soedomo mengambil langkah strategis yang cukup berani dengan mengubah nama merek dagang HAP Hootjan menjadi Kapal Api agar lebih mudah dikenal masyarakat luas. Pergantian nama ini menandai awal dari modernisasi bisnis mereka. Namun, transisi dari metode tradisional menuju industri modern tidak berjalan instan dan sempat diwarnai oleh kegagalan eksperimen teknologi pengolahan kopi.

Baca Juga

Kisah Sudono Salim, Ritual Gunung Kawi, dan Ekspansi Bisnis Salim Group

Kisah Sudono Salim, Ritual Gunung Kawi, dan Ekspansi Bisnis Salim Group

Titik balik penting terjadi saat Soedomo melakukan perjalanan ke Jerman untuk menghadiri pameran mesin pengolah kopi. Di sana, ia terpikat oleh sebuah mesin canggih, namun harganya sangat tinggi untuk ukuran saat itu, yakni mencapai Rp 123 juta. Karena keterbatasan dana, Soedomo mencoba merekayasa mesin tersebut secara mandiri. Dengan modal hanya Rp 870 ribu, ia berhasil merakit mesin tiruan yang mampu mengolah 180 kg kopi per jam. Sayangnya, keputusan menghemat anggaran ini berujung fatal. Kualitas kopi yang dihasilkan mesin rakitan tersebut justru memburuk, mengakibatkan penurunan performa bisnis Kapal Api secara signifikan.

Sadar bahwa kualitas rasa adalah kunci utama, Soedomo akhirnya menyerah pada mesin rakitan buatannya. Ia memutuskan untuk membeli mesin kopi mahal langsung dari Jerman. Guna mendanai pembelian tersebut, ia memanfaatkan fasilitas pinjaman dari Bank Pembangunan Indonesia. Langkah berani ini membuahkan hasil manis karena kualitas kopi Kapal Api meningkat drastis. Seiring dengan melonjaknya permintaan, Soedomo mendirikan PT Santos Jaya Abadi di Sidoarjo sebagai pusat produksi skala besar. Untuk memperluas jangkauan pasar, ia juga memanfaatkan media televisi dengan beriklan di TVRI. Strategi pemasaran ini berhasil membawa produk Kapal Api menembus pasar luar Jawa, seperti Palembang, Makassar, Medan, hingga Pontianak.

Baca Juga

Dulu Raja Sawit Dunia, Negara Ini Sekarang Belajar dari Malaysia

Dulu Raja Sawit Dunia, Negara Ini Sekarang Belajar dari Malaysia

Keberhasilan di pasar domestik mendorong perusahaan untuk melangkah lebih jauh ke kancah internasional demi memperluas jangkauan pasar. Pada tahun 1985, kopi Kapal Api secara resmi mengekspor produknya ke berbagai wilayah di luar negeri, termasuk ke kawasan Timur Tengah, Taiwan, Hongkong, hingga Malaysia. Tidak berhenti pada produk kopi hitam tradisional, inovasi produk terus dikembangkan dengan meluncurkan varian kopi susu siap seduh bermerek Kopi ABC yang dalam sekejap laris manis di pasaran. Selain itu, PT Santos Jaya Abadi juga mendiversifikasi portofolio bisnis mereka dengan memproduksi merek-merek populer lainnya seperti Good Day, sereal Ceremix, hingga produk kembang gula berupa permen Relaxa.

Untuk melengkapi dominasi mereka di semua lini pasar, Soedomo melihat peluang baru di sektor gaya hidup kelas atas. Pada tahun 1992, ia merambah bisnis kedai kopi premium dengan meluncurkan Excelso. Berbeda dengan produk kemasan yang menyasar pasar massal, kedai kopi Excelso secara khusus ditargetkan untuk kalangan menengah ke atas. Gerai-gerai awal Excelso ditempatkan di lokasi-lokasi prestisius, seperti Plaza Indonesia di Jakarta dan Plaza Tunjungan II di Surabaya. Langkah ini menegaskan transformasi bisnis keluarga yang awalnya dirintis dari kopi rumahan sederhana di Surabaya menjadi salah satu raksasa industri kopi terbesar di Indonesia.

Ikuti berputar.id

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Topik Terkait

Sejarah BisnisKopi Kapal ApiGo Soe LoetSoedomo MergonotoPT Santos Jaya Abadi

Berita Terbaru Lainnya

Seskab Teddy Indra Wijaya Disambut Puisi dari Jalanan Menuju Harapan di TangerangStrategi Indonesia Memperkuat Posisi Tawar di Pasar Karbon dan Perdagangan Kehutanan GlobalPembangunan Jalan Tol Jogja-Solo Hampir Rampung, Simak Progres LengkapnyaKolaborasi Baznas RI dan KHCF Yordania untuk Kesehatan PalestinaTragedi Iran Air 655, Kronologi Penembakan Pesawat Sipil oleh Militer ASKisah Sudono Salim, Ritual Gunung Kawi, dan Ekspansi Bisnis Salim GroupDulu Raja Sawit Dunia, Negara Ini Sekarang Belajar dari MalaysiaAlasan di Balik Kebiasaan Menyibukkan Diri Saat Merasa Gelisah

Paling Banyak Dibaca

Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru 1 Agustus 2026, Pertamax Turun Menjadi Rp 15.950 per Liter

Ekonomi

Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru 1 Agustus 2026, Pertamax Turun Menjadi Rp 15.950 per Liter

2 Agu 2026

Menganalisis Peluang Timnas Indonesia di Grup A Piala AFF 2026

Olahraga

Menganalisis Peluang Timnas Indonesia di Grup A Piala AFF 2026

1 Agu 2026

Festival Seni Colour of Indonesia Dorong Kreativitas Anak Menyambut HUT Ke-81 RI

Nasional

Festival Seni Colour of Indonesia Dorong Kreativitas Anak Menyambut HUT Ke-81 RI

4 Agu 2026

Panduan Membaca Pergerakan IHSG ke Level 6.236 dan Sentimen Pasar Global

Ekonomi

Panduan Membaca Pergerakan IHSG ke Level 6.236 dan Sentimen Pasar Global

1 Agu 2026

Lonjakan Temuan Kasus Hipertensi dan Diabetes pada Program Cek Kesehatan Gratis 2026

Nasional

Lonjakan Temuan Kasus Hipertensi dan Diabetes pada Program Cek Kesehatan Gratis 2026

4 Agu 2026

Singapura Cekal Permanen Pendiri Massive Attack Usai Pengibaran Bendera Palestina di Konser

Nasional

Singapura Cekal Permanen Pendiri Massive Attack Usai Pengibaran Bendera Palestina di Konser

4 Agu 2026

馃敟

Populer

  1. 1Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru 1 Agustus 2026, Pertamax Turun Menjadi Rp 15.950 per LiterEkonomi 路 2 Agu 2026
  2. 2Menganalisis Peluang Timnas Indonesia di Grup A Piala AFF 2026Olahraga 路 1 Agu 2026
  3. 3Festival Seni Colour of Indonesia Dorong Kreativitas Anak Menyambut HUT Ke-81 RINasional 路 4 Agu 2026
  4. 4Panduan Membaca Pergerakan IHSG ke Level 6.236 dan Sentimen Pasar GlobalEkonomi 路 1 Agu 2026
  5. 5Lonjakan Temuan Kasus Hipertensi dan Diabetes pada Program Cek Kesehatan Gratis 2026Nasional 路 4 Agu 2026