berputar.id
BerandaNewsHukumBeritaEkonomiNasionalInternasionalOtomotifKeuanganOlahragaTeknologiPolitikMegapolitanPopuler
Beranda/Nasional

Dulu Raja Sawit Dunia, Negara Ini Sekarang Belajar dari Malaysia

Usat BalangDiterbitkan 8 Agu 2026 - 19.36 路 0 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Dulu Raja Sawit Dunia, Negara Ini Sekarang Belajar dari Malaysia
Foto/Ilustrasi: cnbcindonesia.com.
A-A+

Kelapa sawit merupakan tanaman asli dari kawasan Afrika Barat, dengan Nigeria sebagai salah satu wilayah asal ekologisnya. Pada masa lampau, negara ini pernah mendominasi pasar global dengan menguasai sekitar 43 persen pasokan minyak sawit dunia. Namun, kejayaan masa lalu tersebut kini berbalik arah secara drastis. Kontribusi Nigeria terhadap suplai minyak sawit mentah global menyusut hingga hanya tersisa di kisaran 2 persen. Penurunan signifikan ini memaksa Nigeria, yang dahulu berstatus sebagai produsen utama, untuk mempelajari strategi pengelolaan industri dari negara lain, khususnya Malaysia.

Bagaimana sejarah awal dan kronologi penurunan produksi sawit di Nigeria?

Sebagai tempat asal tanaman kelapa sawit, Nigeria sebenarnya memiliki keunggulan alami yang sangat besar sejak awal abad ke-20. Dominasi historis sebesar 43 persen menunjukkan bahwa negara di Afrika Barat ini pernah menjadi episentrum utama industri sawit global. Namun, seiring berjalannya waktu, fokus ekonomi dan metode pengelolaan perkebunan di Nigeria mengalami pergeseran yang signifikan. Ketika negara-negara Asia Tenggara seperti Malaysia dan Indonesia mulai mengembangkan perkebunan sawit secara masif, terstruktur, dan modern, Nigeria justru tertinggal dalam hal intensifikasi lahan serta pembaruan teknologi. Akibatnya, kontribusi global mereka menyusut drastis ke angka 2 persen, sementara kebutuhan domestik terus melonjak melampaui kemampuan produksi lokal.

berputar.id

Copyright 2026 berputar.id - All Rights Reserved.

Kategori

NewsHukumBeritaEkonomiNasionalInternasionalOtomotifKeuanganOlahragaTeknologiPolitikMegapolitan

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap

Mengapa terjadi kesenjangan besar antara pasokan dan permintaan sawit di Nigeria saat ini?

Baca Juga

Seskab Teddy Indra Wijaya Disambut Puisi dari Jalanan Menuju Harapan di Tangerang

Seskab Teddy Indra Wijaya Disambut Puisi dari Jalanan Menuju Harapan di Tangerang

Saat ini, tingkat konsumsi atau kebutuhan minyak sawit di Nigeria telah mencapai sekitar 2,7 juta ton per tahun. Di sisi lain, kapasitas produksi nasional mereka baru mampu menyuplai kisaran 1,5 juta ton per tahun. Defisit yang mencapai lebih dari satu juta ton ini menjadi persoalan serius bagi ketahanan pangan dan kestabilan ekonomi domestik. Berdasarkan data laporan dari UN Comtrade, Nigeria bahkan harus mengeluarkan dana sekitar US$155 juta sepanjang tahun 2024 hanya untuk mengimpor minyak sawit dari negara-negara produsen seperti Malaysia, Indonesia, dan negara produsen lainnya demi menutup kekurangan pasokan tersebut.

Faktor apa saja yang menghambat produktivitas perkebunan sawit di Nigeria?

Struktur kepemilikan lahan dan metode budi daya menjadi kendala utama di sektor hulu perkebunan Nigeria. Presiden Oil Palm Growers Association of Nigeria (OPGAN), Joe Onyiuke, mengonfirmasi tantangan berat yang dihadapi para petani di negaranya saat ini. Sekitar 80 persen dari total produksi sawit di Nigeria masih bersumber dari petani kecil yang mengelola lahan secara mandiri. Para petani ini umumnya mengelola tanaman kelapa sawit yang tumbuh secara semi-liar. Proses pemanenan serta pengolahan pascapanen juga masih sangat mengandalkan metode tradisional yang kurang efisien, sehingga hasil minyak sawit yang diperoleh tidak seoptimal perkebunan modern skala industri di negara lain.

Bagaimana perbandingan kinerja industri kelapa sawit Malaysia yang kini menjadi rujukan?

Baca Juga

Strategi Indonesia Memperkuat Posisi Tawar di Pasar Karbon dan Perdagangan Kehutanan Global

Strategi Indonesia Memperkuat Posisi Tawar di Pasar Karbon dan Perdagangan Kehutanan Global

Kontras dengan kondisi di Nigeria, Malaysia telah sukses bertransformasi menjadi kekuatan besar industri sawit dunia. Pada tahun 2025, Malaysia mencatatkan produksi minyak sawit mencapai sekitar 20,28 juta ton dan mengekspor komoditas tersebut ke lebih dari 150 negara di seluruh dunia. Sektor ini memberikan kontribusi yang sangat signifikan bagi perekonomian Malaysia, menyumbang devisa ekspor sebesar US$27,5 miliar serta berkontribusi sekitar 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto negara tersebut pada tahun 2025. Selain itu, industri sawit Malaysia menjadi tumpuan hidup bagi sekitar tiga juta tenaga kerja yang tersebar di sektor perkebunan, industri pengolahan, logistik, hingga pengembangan produk hilir berbasis sawit.

Langkah konkret apa yang dilakukan untuk menjembatani transfer pengetahuan antara kedua negara?

Guna mengatasi defisit pasokan sekaligus meningkatkan kapasitas industri lokalnya, pelaku industri di Nigeria mulai mempererat kemitraan dengan Malaysia. Salah satu langkah nyata ditunjukkan oleh Malaysian Palm Oil Council (MPOC), organisasi yang dipimpin oleh Chief Executive Officer Belvinder Sron. MPOC telah membuka kantor perwakilan resmi di Lagos, Nigeria. Kehadiran kantor perwakilan ini bertujuan untuk memperluas kerja sama dengan para pelaku industri setempat. Di samping transfer pengetahuan, hubungan perdagangan kedua negara tetap berjalan aktif, di mana Malaysia tercatat mengekspor sekitar 300 ribu ton minyak sawit beserta produk turunannya ke Nigeria dalam kurun waktu satu tahun terakhir.

Ikuti berputar.id

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Topik Terkait

Kelapa SawitPerdagangan InternasionalMalaysiaEkspor Imporminyak sawitNigeria

Berita Terbaru Lainnya

Seskab Teddy Indra Wijaya Disambut Puisi dari Jalanan Menuju Harapan di TangerangStrategi Indonesia Memperkuat Posisi Tawar di Pasar Karbon dan Perdagangan Kehutanan GlobalPembangunan Jalan Tol Jogja-Solo Hampir Rampung, Simak Progres LengkapnyaKolaborasi Baznas RI dan KHCF Yordania untuk Kesehatan PalestinaTragedi Iran Air 655, Kronologi Penembakan Pesawat Sipil oleh Militer ASKisah Sudono Salim, Ritual Gunung Kawi, dan Ekspansi Bisnis Salim GroupPerjalanan Go Soe Loet Membangun Kapal Api dari Kopi Rumahan di SurabayaAlasan di Balik Kebiasaan Menyibukkan Diri Saat Merasa Gelisah

Paling Banyak Dibaca

Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru 1 Agustus 2026, Pertamax Turun Menjadi Rp 15.950 per Liter

Ekonomi

Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru 1 Agustus 2026, Pertamax Turun Menjadi Rp 15.950 per Liter

2 Agu 2026

Menganalisis Peluang Timnas Indonesia di Grup A Piala AFF 2026

Olahraga

Menganalisis Peluang Timnas Indonesia di Grup A Piala AFF 2026

1 Agu 2026

Festival Seni Colour of Indonesia Dorong Kreativitas Anak Menyambut HUT Ke-81 RI

Nasional

Festival Seni Colour of Indonesia Dorong Kreativitas Anak Menyambut HUT Ke-81 RI

4 Agu 2026

Panduan Membaca Pergerakan IHSG ke Level 6.236 dan Sentimen Pasar Global

Ekonomi

Panduan Membaca Pergerakan IHSG ke Level 6.236 dan Sentimen Pasar Global

1 Agu 2026

Lonjakan Temuan Kasus Hipertensi dan Diabetes pada Program Cek Kesehatan Gratis 2026

Nasional

Lonjakan Temuan Kasus Hipertensi dan Diabetes pada Program Cek Kesehatan Gratis 2026

4 Agu 2026

Singapura Cekal Permanen Pendiri Massive Attack Usai Pengibaran Bendera Palestina di Konser

Nasional

Singapura Cekal Permanen Pendiri Massive Attack Usai Pengibaran Bendera Palestina di Konser

4 Agu 2026

馃敟

Populer

  1. 1Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru 1 Agustus 2026, Pertamax Turun Menjadi Rp 15.950 per LiterEkonomi 路 2 Agu 2026
  2. 2Menganalisis Peluang Timnas Indonesia di Grup A Piala AFF 2026Olahraga 路 1 Agu 2026
  3. 3Festival Seni Colour of Indonesia Dorong Kreativitas Anak Menyambut HUT Ke-81 RINasional 路 4 Agu 2026
  4. 4Panduan Membaca Pergerakan IHSG ke Level 6.236 dan Sentimen Pasar GlobalEkonomi 路 1 Agu 2026
  5. 5Lonjakan Temuan Kasus Hipertensi dan Diabetes pada Program Cek Kesehatan Gratis 2026Nasional 路 4 Agu 2026