Kelapa sawit merupakan tanaman asli dari kawasan Afrika Barat, dengan Nigeria sebagai salah satu wilayah asal ekologisnya. Pada masa lampau, negara ini pernah mendominasi pasar global dengan menguasai sekitar 43 persen pasokan minyak sawit dunia. Namun, kejayaan masa lalu tersebut kini berbalik arah secara drastis. Kontribusi Nigeria terhadap suplai minyak sawit mentah global menyusut hingga hanya tersisa di kisaran 2 persen. Penurunan signifikan ini memaksa Nigeria, yang dahulu berstatus sebagai produsen utama, untuk mempelajari strategi pengelolaan industri dari negara lain, khususnya Malaysia.
Bagaimana sejarah awal dan kronologi penurunan produksi sawit di Nigeria?
Sebagai tempat asal tanaman kelapa sawit, Nigeria sebenarnya memiliki keunggulan alami yang sangat besar sejak awal abad ke-20. Dominasi historis sebesar 43 persen menunjukkan bahwa negara di Afrika Barat ini pernah menjadi episentrum utama industri sawit global. Namun, seiring berjalannya waktu, fokus ekonomi dan metode pengelolaan perkebunan di Nigeria mengalami pergeseran yang signifikan. Ketika negara-negara Asia Tenggara seperti Malaysia dan Indonesia mulai mengembangkan perkebunan sawit secara masif, terstruktur, dan modern, Nigeria justru tertinggal dalam hal intensifikasi lahan serta pembaruan teknologi. Akibatnya, kontribusi global mereka menyusut drastis ke angka 2 persen, sementara kebutuhan domestik terus melonjak melampaui kemampuan produksi lokal.








