Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyampaikan pandangan terbarunya mengenai situasi geopolitik global saat ini, khususnya terkait dengan perkembangan konflik bersenjata yang melibatkan Rusia dan Ukraina. Dalam pidatonya pada pertemuan dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) yang berlangsung di Istana Negara, Jakarta, pada hari Jumat, 31 Juli, Presiden Prabowo secara khusus menyoroti eskalasi peperangan tersebut. Ia memperingatkan bahwa durasi perang antara Rusia dengan Ukraina berpotensi berlangsung jauh lebih lama dibandingkan dengan masa Perang Dunia II. Pandangan ini disampaikan sebagai bagian dari peringatan penting bahwa dunia saat ini sedang berada dalam kondisi penuh ketidakpastian. Menurutnya, kerawanan geopolitik yang sangat tinggi telah memicu berbagai peperangan yang terjadi di mana-mana di berbagai belahan bumi.
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai proyeksi tersebut, Prabowo mengajak para peserta pertemuan untuk melihat kembali catatan sejarah mengenai durasi Perang Dunia II. Secara historis, Perang Dunia II berlangsung selama kurang lebih enam tahun lamanya. Konflik berskala global tersebut ditandai dengan invasi Nazisme Jerman ke wilayah Polandia pada tahun 1939. Perang besar ini pada akhirnya baru berakhir secara resmi setelah kekalahan blok poros oleh pasukan Sekutu pada bulan Agustus 1945. Dalam penjabaran pidatonya, Prabowo menyebutkan secara lebih rinci bahwa Perang Dunia Kedua dimulai pada bulan September 1939. Ia kemudian menghitung rentang waktu perang yang terus berlanjut melewati tahun 1940, 1941, 1942, 1943, hingga akhirnya mencapai titik akhir pada pertengahan bulan Mei 1945.
3 Pengeroyok Warga Pejompongan Ditangkap di Babakan Madang Bogor

Sebagai perbandingan langsung, perang di Ukraina yang melibatkan Rusia telah berlangsung cukup lama dan terus menunjukkan eskalasi. Prabowo memaparkan kronologi konflik tersebut yang menurut catatannya telah dimulai sejak tahun 2022. Sejak saat dimulainya ketegangan tersebut, pertempuran terus berlanjut secara intensif melewati tahun 2023, 2024, dan 2025. Kini, menurut perhitungannya, durasi konflik bersenjata di kawasan Eropa Timur tersebut sudah masuk ke tahun 2026. Berdasarkan perhitungan tahun ke tahun inilah, muncul kekhawatiran bahwa konflik antara Rusia dan Ukraina akan melampaui durasi Perang Dunia II. Hal ini menjadi sebuah peringatan serius bagi stabilitas keamanan internasional yang saat ini sedang menghadapi ujian berat.
Kerawanan geopolitik global saat ini semakin diperparah oleh fakta bahwa peperangan tidak hanya terkonsentrasi di satu kawasan saja. Prabowo mengungkapkan bahwa di tengah perang di Ukraina yang belum usai, konflik bersenjata di wilayah lain juga ikut pecah. Salah satu contoh ketegangan yang secara khusus disoroti adalah konflik yang melibatkan Iran dengan pihak Israel dan Amerika Serikat. Prabowo menegaskan bahwa hingga saat ini peperangan di kawasan tersebut belum juga menemukan titik terang atau penyelesaian. Situasi ini telah membawa dampak yang cukup besar di berbagai aspek kehidupan masyarakat secara luas. Terlebih lagi, ia menyampaikan dengan penuh keprihatinan bahwa rentetan peperangan yang terjadi di berbagai kawasan ini juga telah menelan jutaan korban jiwa.
Kecelakaan Maut di Tol Jombang-Mojokerto, 4 Tewas 7 Luka

Meskipun berbagai pertempuran besar tersebut terjadi di kawasan lain yang letaknya jauh dari tanah air, dampaknya tetap dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Prabowo menyatakan bahwa bukan berarti hal itu tidak membawa dampak apa-apa terhadap Indonesia. Ia mengingatkan bahwa peperangan di satu bagian dari bumi memiliki pengaruh yang sangat luas dan saling berkaitan erat satu sama lain. Ketidakstabilan geopolitik akibat perang secara langsung memengaruhi berbagai sektor, terutama yang bersentuhan dengan kebutuhan pokok masyarakat. Prabowo menyebutkan bahwa dampak yang paling nyata dari konflik global ini terasa kepada fluktuasi harga pangan serta kenaikan harga bahan bakar minyak atau BBM, dan berbagai sektor lainnya. Oleh karena itu, peringatan ini menjadi sinyal penting bagi kesiapan Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian dunia.






