Outstanding pembiayaan industri pinjaman daring (pindar) nasional menembus Rp94,85 triliun per November 2025 dengan pertumbuhan tahunan sebesar 25,45 persen. Seiring ekspansi tersebut, platform fintech pendanaan bersama mengandalkan pendekatan data alternatif guna menilai kelayakan calon debitur yang belum terjangkau layanan perbankan konvensional.
Ketua Bidang Hubungan Masyarakat Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Kuseryansyah menyatakan bahwa perusahaan pindar dapat memanfaatkan jejak telekomunikasi dan media sosial sebagai pengganti riwayat kredit konvensional. Salah satu indikator yang digunakan adalah durasi keaktifan nomor ponsel calon peminjam.
Nomor ponsel yang tercatat aktif secara konsisten selama 10 tahun dinilai sudah cukup untuk membentuk skor penilaian minimum. Skema ini memungkinkan masyarakat menengah ke bawah mengajukan pinjaman tanpa perlu menyertakan berkas mutasi tabungan maupun slip gaji.
Ketika Anak Presiden Minta Warga Buang Dolar Buat Selamatkan Rupiah

Menutup Kesenjangan Pembiayaan Nasional
Pemanfaatan data telekomunikasi dinilai krusial mengingat Indonesia merupakan target pasar pindar terbesar dari segi populasi. Di sisi lain, celah penyaluran dana antara sektor keuangan formal dan kebutuhan riil masyarakat masih tergolong lebar.
Berdasarkan kajian industri, total kebutuhan pembiayaan nasional diperkirakan mencapai Rp2.650 triliun. Dari jumlah tersebut, lembaga jasa keuangan konvensional baru mampu menopang sekitar Rp1.000 triliun, sehingga menyisakan celah pembiayaan sekitar Rp1.650 triliun hingga akhir 2025.
Racikan Investasi Nasabah Wealth Management di Tengah Gejolak Global dan Tren Suku Bunga

Kesenjangan tersebut berpotensi melebar seiring bertumbuhnya aktivitas usaha masyarakat. Riset EY MSME Market Study and Policy Advocacy memperkirakan kebutuhan pembiayaan sektor UMKM dapat menembus angka Rp4.300 triliun pada 2026, dengan perkiraan kesenjangan kredit (credit gap) mencapai Rp2.400 triliun.






