Pantauan satelit mendeteksi 36 titik panas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tersebar di wilayah Provinsi Papua Barat hingga Jumat, 28 Agustus 2026 pukul 19.00 WIB. Data tersebut dihimpun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui sensor satelit NASA-Terra/Aqua, NASA-SNPP, dan NASA-NOAA20.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, merinci bahwa sebaran titik panas tersebut terdiri atas satu titik dengan tingkat kepercayaan rendah, 31 titik tingkat kepercayaan sedang, dan empat titik tingkat kepercayaan tinggi.
Berdasarkan data sistem SIPONGI Kementerian Kehutanan per 27 Agustus 2026, total luas indikatif lahan yang terbakar di Papua Barat telah mencapai 2.496,39 hektare. Selain di Kabupaten Teluk Bintuni, sebaran karhutla juga teridentifikasi di Kabupaten Fakfak, Manokwari Selatan, serta Pegunungan Arfak. Laporan BPBD Provinsi Papua Barat menempatkan Kabupaten Teluk Bintuni pada posisi kedua tertinggi di tingkat provinsi untuk luasan lahan yang terdampak.
Penanganan Karhutla di Teluk Bintuni
Peristiwa kebakaran di Kabupaten Teluk Bintuni sendiri teramati sejak 22 Agustus 2026. Karakteristik lokasi yang berada di kawasan hutan lebat dengan pepohonan tinggi serta tutupan vegetasi rapat menjadi tantangan utama bagi tim gabungan dalam melakukan operasi pemadaman dari udara.
Ini 9 Anggota AHWA yang Bakal Pilih Rais Aam-Ketum PBNU

Upaya pemadaman dipusatkan di sekitar kawasan fasilitas Tangguh LNG. Berdasarkan pemantauan drone termal milik BP Berau Ltd. pada Jumat (28/8), terpantau 14 titik panas yang terbagi dalam empat klaster, yakni nihil titik di Klaster 1, empat titik di Klaster 2, empat titik di Klaster 3, dan enam titik di Klaster 4.
Operasi water bombing dilakukan secara bertahap menggunakan satu unit helikopter AS350B3e PK-DBM milik BNPB. Secara kumulatif, helikopter tersebut telah menjalankan 69 kali penyiraman atau menumpahkan sekitar 69 ribu liter air.
Pada operasi Jumat (28/8), pemadaman udara dibagi menjadi dua sortie. Sortie pertama dilakukan di Klaster 3 dengan 26 kali siraman air (sekitar 26.000 liter) pada lahan seluas empat hektare. Sortie kedua diarahkan ke Klaster 1 dengan 28 kali pengeboman air (sekitar 28.000 liter) di area sekitar tiga hektare.
Bedah Buku Penyirep Gemuruh, Sarmuji Puji Pemikiran Pendiri NU Tak Lekang Zaman

Berton menerangkan bahwa setelah rangkaian water bombing tersebut, kobaran api terbuka di kedua lokasi sudah tidak ditemukan, meski kepulan asap tipis sisa pembakaran masih terlihat. Kondisi karhutla di sekitar area operasi Tangguh LNG secara umum berada dalam status terkendali.
Untuk memperkuat daya jangkau pemadaman udara, satu unit helikopter tipe Super Puma milik BP Berau Ltd. telah berada di lokasi dan siap beroperasi. Selain itu, satu unit helikopter tipe Kamov dijadwalkan tiba guna menambah kapasitas penanganan karhutla di Papua Barat.






