Pemanfaatan perjanjian perdagangan bebas atau Free Trade Agreement (FTA) memerlukan strategi terukur agar keterbukaan pasar global tidak hanya meningkatkan volume arus perdagangan, melainkan turut menopang kapasitas industri manufaktur di dalam negeri.
Dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Dampak Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) terhadap Kinerja Ekonomi dan Industrialisasi Indonesia” yang digelar di Kementerian Keuangan pada Kamis, 20 Agustus 2026, pelaku industri dan pemerintah menyoroti pentingnya sinkronisasi kebijakan perdagangan dengan penguatan sektor riil.
Berikut adalah tahapan strategis dan instrumen yang perlu diterapkan untuk memastikan implementasi FTA memberikan dampak optimal bagi industrialisasi nasional.
1. Menerapkan Pendekatan Berbasis Data untuk Pemetaan Sektor Terdampak
Pemerintah bersama pemangku kepentingan industri perlu mengukur dampak langsung maupun tidak langsung dari setiap skema FTA secara kuantitatif. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam forum tersebut menggarisbawahi perlunya pendekatan berbasis data.
GEET Pulau Rengit Resmi Beroperasi dan Dorong Ekonomi Energi Hijau

Langkah-langkah yang dilakukan mencakup: - Memetakan sektor manufaktur yang rentan maupun yang memiliki potensi ekspor tinggi terhadap pembukaan tarif. - Menjadikan hasil pemetaan sebagai rujukan dalam merumuskan strategi penguatan industri nasional. - Mengintegrasikan analisis data tersebut ke dalam peta jalan (roadmap) industrialisasi dan revitalisasi manufaktur secara berkala.
2. Mengukur Dampak Perdagangan Melalui Indikator Kapasitas Domestik
Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Akbar Djohan, menegaskan bahwa evaluasi FTA tidak boleh terbatas pada angka neraca ekspor-impor semata. Keterbukaan pasar harus memberi manfaat nyata bagi daya saing industri dalam negeri.
Dalam keterangannya pada Senin, 24 Agustus 2026, Akbar yang juga menjabat Chairman Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) dan Chairman Asosiasi Logistik & Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA) menekankan empat indikator penilaian dampak FTA: - Tingkat Utilisasi Industri: Memastikan kapasitas produksi pabrik lokal tetap beroperasi optimal dan tidak tergerus produk impor. - Realisasi Investasi dan Transfer Teknologi: Menjadikan FTA sebagai pendorong masuknya modal produktif serta alih teknologi ke industri hilir. - Penyerapan Tenaga Kerja: Mengukur kontribusi pembukaan pasar terhadap ketersediaan lapangan kerja domestik. - Keberlanjutan Rantai Pasok: Memperhitungkan efek pengganda (multiplier effect). Sebagai contoh, setiap aktivitas senilai 1 dolar AS di industri baja mampu mendorong sekitar 2,5 dolar AS di rantai pasok dan hingga 13 dolar AS pada industri terkait.
Pertamina Patra Niaga Tambah Pasokan BBM di NTT, Distribusi ke Wilayah Terdampak Bencana Pulih |Republika Online

3. Menjalankan Instrumen Proteksi dan Penegakan Rules of Origin
Agar persaingan pasar tetap adil bagi produsen lokal, implementasi FTA harus dibarengi dengan pengawasan ketat terhadap arus barang yang masuk.
Instrumen teknis yang perlu dioptimalkan meliputi: - Penerapan Trade Remedies Responsif: Mengaktifkan mekanisme perlindungan perdagangan seperti tindakan antidumping, imbalan, atau tindakan pengamanan (safeguard) secara cepat ketika ditemukan indikasi praktik perdagangan yang merugikan industri nasional. - Penguatan Ketentuan Asal Barang (Rules of Origin / ROO): Memperketat verifikasi kriteria pemenuhan asal barang guna mencegah praktik pengalihan negara asal (transshipment) atau masuknya produk yang tidak memenuhi kualifikasi preferensi tarif FTA.
4. Menyelaraskan Perdagangan Bebas dengan Agenda Hilirisasi
Langkah terakhir adalah memastikan arah implementasi FTA sejalan dengan komitmen pemerintah dalam melanjutkan program hilirisasi dan industrialisasi. Setiap perjanjian dagang harus diarahkan untuk mendukung peningkatan nilai tambah bahan mentah di dalam negeri, memperkuat pasokan logistik nasional, serta menjaga keberlanjutan rantai pasok manufaktur strategis.






