Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menyerukan kepada seluruh negara muslim, khususnya di kawasan Teluk dan Asia Barat, untuk merapatkan barisan menghadapi apa yang ia sebut sebagai musuh sebenarnya. Khamenei menegaskan bahwa Amerika Serikat dan Israel merupakan musuh bebuyutan dari persatuan Islam.
Pernyataan tersebut disampaikan melalui pesan tertulis dalam rangka memperingati Pekan Persatuan Islam (Islamic Unity Week), sebuah momentum yang menandai hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Dalam pesannya, Khamenei mengingatkan bahwa pihak musuh terus berupaya memanfaatkan beragam perbedaan鈥攎ulai dari aspek ras, budaya, sosial, ekonomi, politik, hingga geografis鈥攕ebagai dalih untuk memecah belah umat muslim. Upaya perpecahan tersebut, menurutnya, tidak hanya ditujukan ke dalam masyarakat Iran, tetapi juga menyasar negara-negara Islam lainnya.
Biksu Ditangkap Gegara Skandal Seks-Gelapkan Uang Kuil Rp53 Miliar

Ia pun secara khusus meminta masyarakat Iran agar tidak membiarkan gesekan internal melemahkan stabilitas negara. Baginya, soliditas dunia Islam merupakan kunci mutlak dalam membangun kekuatan kawasan.
"Persatuan di antara umat muslim sangat penting untuk mencapai peradaban Islam yang dicintai dan dominan," ungkap Khamenei dalam rilis tertulisnya. Ia menambahkan bahwa Amerika Serikat dan Israel tidak hanya menempatkan diri sebagai musuh bagi Iran, melainkan ancaman bagi seluruh peradaban dan dunia Islam secara umum.
Ketegangan Pascaserangan dan Buntunya Diplomasi
Seruan ini mencuat di tengah eskalasi tinggi konflik geopolitik di Timur Tengah. Kawasan tersebut terus memanas sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer bersama ke wilayah Iran pada akhir Februari lalu.
Breaking! Gempa Bumi M 5,9 di Kepulauan Seribu Jakarta

Serangan gabungan itu langsung memicu aksi balasan dari Teheran. Iran meluncurkan serangan balasan yang menargetkan fasilitas-fasilitas militer milik Amerika Serikat yang tersebar di sejumlah negara sekitar kawasan.
Upaya diplomasi sempat ditempuh ketika Iran dan Amerika Serikat menandatangani nota kesepahaman berisi 14 poin pada Juni guna meredakan konfrontasi bersenjata. Meski demikian, kesepakatan damai sementara tersebut tidak berlangsung lama dan dengan cepat menemui jalan buntu di tengah dinamika perselisihan yang belum terselesaikan.






