Peta politik sepak bola dunia terbelah menjelang Kongres FIFA ke-76 di Maroko yang dijadwalkan menggelar pemilihan presiden pada 18 Maret 2027. Gianni Infantino, yang memimpin FIFA sejak 2016 serta memenangi pemilihan pada 2019 dan 2023, kembali mencalonkan diri untuk mempertahankan posisinya hingga 2031.
Langkah Infantino kali ini tidak semulus periode-periode sebelumnya. Wacana pembukaan investasi swasta pada kompetisi FIFA melalui program FIFA Forward Enterprise (FFE) menuai resistensi luas hingga akhirnya kandas pada penghujung Juli lalu. Isu FFE tersebut menjadi titik balik yang mempertegas garis batas antara federasi yang setia menyokong Infantino dan kubu yang menghendaki suksesi kepemimpinan.
Barisan Pendukung di Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Selatan
Kendati menghadapi kritik keras, Infantino masih mempertahankan basis kekuatan yang solid di sejumlah kawasan. Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) menunjukkan kesetiaan penuh setelah asosiasi anggotanya secara bulat menyatakan dukungan resmi dalam pertemuan di Vancouver, Kanada. Presiden Federasi Sepak Bola Kamerun, Samuel Eto'o, menegaskan pentingnya kontinuitas tersebut mengingat peran FIFA dalam pembangunan infrastruktur sepak bola di benua Afrika.
Di belahan bumi lain, CONMEBOL tetap menjadi salah satu pilar utama Infantino. Sementara di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, Qatar menjadi federasi pertama yang pasang badan secara terbuka pascakontroversi FFE, disusul oleh Lebanon, Kuwait, Maroko, Mesir, Mauritania, serta Sudan. Arab Saudi, yang memegang posisi strategis sebagai tuan rumah Piala Dunia 2034, ikut mengumumkan dukungannya pada Agustus 2026.
Kemendikdasmen Segera Buka Seleksi Guru dan Tenaga Kependidikan SILN-CLC 2026

Menariknya, pembelahan sikap juga terjadi di dalam konfederasi. Kendati garis institusional CONCACAF menentang kepemimpinan FIFA saat ini, Meksiko, Grenada, serta Saint Kitts and Nevis memilih keluar dari arus utama wilayahnya demi menyokong Infantino.
Gelombang Penolakan dan Peluang Munculnya Penantang
Penolakan paling frontal datang dari Eropa dan sebagian wilayah Amerika Utara. Tiga konfederasi besar—UEFA, CONCACAF, dan AFC—yang secara akumulatif mewakili 136 asosiasi anggota, sempat merilis pernyataan bersama yang menyoroti arah kepemimpinan FIFA saat ini.
Di tingkat federasi, Asosiasi Sepak Bola Skotlandia memastikan tidak akan memberikan suaranya untuk Infantino. Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), Federasi Sepak Bola Prancis (FFF), dan Asosiasi Sepak Bola Austria (ÖFB) secara resmi telah menarik dukungan mereka. Sejak awal, Jerman dan Denmark bahkan tidak pernah mengirimkan surat dukungan bagi pencalonan sang petahana. Pada pertemuan Komite Hukum FIFA tanggal 9 September 2026, Presiden Asosiasi Sepak Bola Denmark (DBU) Jesper Møller secara terbuka menyatakan bahwa pergantian presiden di tubuh FIFA sudah mendesak.
Polri Siapkan Dukungan DVI untuk Korban Virgo Transport 8

Kritik tak kalah tegas dilontarkan oleh Presiden Federasi Sepak Bola Norwegia Lise Klaveness yang menyatakan organisasinya telah kehilangan kepercayaan dan menyerukan agar Infantino mundur. Dari kawasan Amerika Utara, Kanada secara terang-terangan menuntut pencopotan Infantino, sementara Presiden Federasi Sepak Bola Yordania Pangeran Ali bin Hussein menegaskan posisinya untuk tidak mendukung maupun memilih Infantino.
Batas akhir pendaftaran bakal calon presiden FIFA masih dibuka hingga 18 November 2026. Meski Presiden UEFA Aleksander Ceferin telah menyatakan tidak akan maju dalam kontestasi ini, nama Presiden CONCACAF sekaligus Wakil Presiden FIFA Victor Montagliani mencuat sebagai salah satu figur penantang paling potensial untuk memperebutkan kursi nomor satu sepak bola global.






