Kementerian Kesehatan mencatat sejumlah tantangan dalam penanganan medis darurat bagi para korban bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain lumpuhnya operasional fasilitas kesehatan di beberapa titik, kecenderungan warga memilih pengobatan tradisional menjadi kendala penanganan korban dengan luka berat.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa fokus utama pemerintah saat ini adalah mencegah bertambahnya korban jiwa. Dari total delapan kabupaten dan kota di kawasan tersebut, tujuh kabupaten mengalami dampak bencana, terutama Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, dan Nagekeo. Hanya Flores Timur yang dilaporkan terbebas dari dampak gempa.
Sebagian besar korban terdampak yang dievakuasi mengalami cedera trauma, seperti patah tulang tangan dan kaki, hingga trauma di area kepala dan dada. Namun, penanganan medis terhambat oleh kebiasaan warga yang enggan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Pria Curi Lampu di Proyek Tol Jogja-Solo, Langsung Ditangkap Pekerja Proyek

Budi menuturkan, faktor budaya di lapangan membuat sejumlah warga yang mengalami patah tulang lebih mempercayai metode perawatan tradisional dibandingkan penanganan medis profesional. Kondisi ini memperberat proses penanganan darurat di lapangan.
Selain persoalan kepercayaan lokal, distribusi tenaga medis di wilayah bencana sempat menemui hambatan. Dua rumah sakit di wilayah terdampak鈥攎asing-masing di Nagekeo dan Manggarai鈥攂erhenti beroperasi total akibat keterbatasan sumber daya manusia yang mampu masuk menjangkau area pedesaan. Dampaknya, sejumlah pasien kategori triase merah sempat menjalani perawatan secara mandiri di rumah.
Saat ini, lebih dari 95 persen pasien dalam kategori triase merah dan kuning telah teridentifikasi. Untuk mempercepat pertolongan, Kemenkes berkoordinasi dengan Basarnas mengerahkan armada helikopter guna menerbangkan tenaga kesehatan ke pelosok desa sekaligus mengevakuasi korban darurat.
2 Pemasok Narkoba ke Revaldo Fifaldi Ditangkap!

Pemerintah juga telah mengoperasikan rumah sakit lapangan di Ruteng dan Nagekeo sejak tanggal 18 malam setelah dikirimkan pada tanggal 17. Fasilitas rujukan diperkuat melalui pemanfaatan dua rumah sakit baru yang telah rampung dibangun, yakni Rumah Sakit Komodo di Manggarai Barat dan rumah sakit di Borong, Manggarai Timur. Warga di kawasan pesisir utara turut dijangkau melalui operasional Rumah Sakit Kapal Airlangga.
Penanganan dampak gempa NTT dirancang dalam tiga tahap terstruktur. Dua pekan pertama difokuskan penuh untuk mengidentifikasi dan merawat seluruh korban luka, disusul reaktivasi fasilitas kesehatan yang sempat terdampak, serta pemulihan total sarana dan prasarana medis yang mengalami kerusakan.






