Pemerintah menjalankan penyaluran pangan pokok melalui pengelolaan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di bawah Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama Perum Bulog. Distribusi komoditas beras cadangan ini dirancang ke dalam dua jalur utama, yakni program bantuan pangan reguler untuk jutaan keluarga penerima manfaat serta alokasi tanggap darurat bagi wilayah terdampak bencana alam.
Berikut ringkasan tanya-jawab mengenai operasional, basis data, alokasi anggaran, dan koordinasi antarlembaga dalam skema penyaluran bantuan beras Cadangan Beras Pemerintah Bapanas.
Apa itu skema penyaluran bantuan beras Cadangan Beras Pemerintah Bapanas?
Skema penyaluran bantuan beras Cadangan Beras Pemerintah Bapanas merupakan mekanisme resmi pendistribusian beras yang dikuasai negara untuk menjaga ketahanan pangan masyarakat berpendapatan rendah serta menjamin ketersediaan logistik di area krisis. Bapanas bertindak sebagai regulator dan pemberi tugas, sedangkan Perum Bulog bertindak sebagai operator penyedia dan penyalur fisik beras dari gudang ke titik bagi.
Pada 2026, program bantuan pangan mencakup sedikitnya 5 bulan alokasi, bertambah dibanding periode 2025 yang mencakup 4 bulan alokasi (Juni-Juli dan Oktober-November).
Bagaimana pembagian bantuan pangan reguler tahap kedua 2026 disalurkan?
Penyaluran tahap kedua mencakup alokasi 3 bulan (Juli, Agustus, dan September 2026) dengan ketentuan:
Langkah Cek Status Desil Penerima Bansos DTKS Kemensos secara Online

- Sasaran Penerima: 33.244.408 penerima manfaat.
- Jumlah Bantuan: 10 kilogram beras per penerima untuk tiap alokasi bulanan (total beras yang dialokasikan mencapai 997,2 ribu ton).
- Anggaran: Pemerintah menyiapkan dana sebesar Rp17,52 triliun.
- Dasar Penugasan: Surat penugasan resmi Bapanas kepada Perum Bulog tertanggal 30 Juli 2026.
- Waktu Distribusi: Penyaluran serentak digulirkan pada bulan Agustus bertepatan dengan momentum peringatan Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia.
- Infrastruktur Distribusi: Bapanas mendorong pemanfaatan fasilitas Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) sebagai titik serah terima beras kepada masyarakat.
Sebelumnya, penyaluran tahap pertama (alokasi Februari dan Maret 2026) telah terealisasi ke 33,14 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) atau 99,7 persen dari target, dengan total volume 664,88 ribu ton beras dan 132,97 ribu kiloliter minyak goreng.
Basis data apa yang digunakan untuk menentukan penerima bantuan reguler?
Penyaluran bantuan beras reguler tahap kedua mengacu pada Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) versi ketiga. Basis data ini telah dimutakhirkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) per 10 Juli 2026 guna memastikan ketepatan sasaran penerima manfaat di berbagai daerah.
Bagaimana prosedur penyaluran bantuan beras untuk kondisi darurat bencana?
Untuk penanganan keadaan darurat bencana alam, pemerintah menyiapkan anggaran Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) senilai Rp1,2 triliun sepanjang tahun 2026. Skema darurat ini mengedepankan kecepatan distribusi di lapangan.
Berdasarkan arahan Presiden Prabowo Subianto yang ditegaskan Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) diperbolehkan mengambil pasokan beras Bulog terlebih dahulu untuk evakuasi pangan warga, sementara proses perizinan dan kelengkapan administrasi dapat diselesaikan menyusul.
Penyaluran Bansos PKH dan BPNT Tahap 1 Kemensos, Skema Distribusi, Kriteria Desil, dan Verifikasi Data

Bagaimana contoh alokasi bantuan bencana dan reguler di daerah terdampak?
Sebagai gambaran integrasi dua skema bantuan tersebut, pemerintah menetapkan alokasi total 6,8 ribu ton beras untuk lima kabupaten terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT), yang terdiri dari 990,3 ton bantuan bencana dan 5,81 ribu ton bantuan reguler. Nilai keseluruhan bantuan untuk lima wilayah ini diperkirakan mencapai sekitar Rp95,2 miliar dengan asumsi harga beras Rp14.000 per kilogram.
Rincian alokasi per 19 Agustus 2026 di NTT meliputi:
- Kabupaten Nagekeo: 661,18 ton bantuan bencana (alokasi bencana terbesar) dan 625,14 ton bantuan reguler.
- Kabupaten Manggarai Timur: 153,78 ton bantuan bencana dan 1,66 ribu ton bantuan reguler.
- Kabupaten Ngada: 86,88 ton bantuan bencana dan 444,21 ton bantuan reguler.
- Kabupaten Manggarai: 81,63 ton bantuan bencana dan 1,79 ribu ton bantuan reguler.
- Kabupaten Sikka: 6,88 ton bantuan bencana dan 1,28 ribu ton bantuan pangan reguler.
Berapa total stok Cadangan Beras Pemerintah yang tersedia?
Ketersediaan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang berada di bawah pengelolaan Bapanas dan Bulog tercatat berada dalam posisi aman. Data per 21 Agustus 2026 menunjukkan stok CBP secara nasional mencapai 5,17 juta ton untuk menopang kebutuhan program bantuan reguler, intervensi pasar, serta pemenuhan darurat bencana di seluruh wilayah Indonesia.






