Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri menegaskan bahwa Jawa Timur, khususnya Kota Surabaya, memiliki kedudukan yang sangat penting dalam sejarah perjuangan bangsa serta pembentukan pemikiran Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno atau Bung Karno. Bung Karno sendiri bahkan menjuluki Surabaya sebagai "Dapur Nasionalisme". Dari kota inilah dasar-dasar pemikiran kebangsaan, imajinasi persatuan, dan cita-cita kemerdekaan diramu sejak usia muda.
Pernyataan tersebut disampaikan Megawati saat memberikan pengarahan dalam agenda Konsolidasi PDI Perjuangan Jawa Timur di Surabaya pada Ahad, 23 Agustus 2026. Melalui momentum konsolidasi ini, Megawati mengajak seluruh kader untuk menengok kembali akar sejarah dan keteladanan Bung Karno di Surabaya sebagai landasan moral dalam menjalankan kerja-kerja politik kerakyatan.
Mengapa Surabaya Dijuluki sebagai Dapur Nasionalisme
Surabaya menjadi kawah candradimuka tempat Bung Karno menimba ilmu, mengasah intelektualitas, serta membentuk kesadaran politik awalnya. Di kota ini, Bung Karno menamatkan pendidikannya di Hoogere Burgerschool (HBS) sekaligus berguru secara langsung kepada tokoh pergerakan nasional, HOS Tjokroaminoto.
Perkembangan Kota Surabaya pada masa itu turut memberi pengaruh besar pada dinamika pemikiran Bung Karno. Pada tahun 1916, Surabaya telah tumbuh menjadi salah satu pusat kapitalisme global di kawasan Hindia Belanda. Realitas tersebut mempertemukan Bung Karno dengan berbagai persoalan riil masyarakat serta dinamika pergerakan zaman, sehingga Surabaya menjadi ruang peleburan gagasan-gagasan besar yang melahirkan tekad kemerdekaan.
Pesan Megawati dari Jejak Bung Karno di Surabaya

Dalam menjalani masa studinya di Surabaya, Bung Karno berhadapan dengan kondisi hidup yang serba terbatas. Beliau tinggal di sebuah ruangan sempit tanpa jendela dan hanya diterangi oleh sebuah lampu minyak teplok berukuran kecil. Namun, keterbatasan fisik tersebut tidak membatasi daya pikirnya. Sejak usianya baru menginjak 16 tahun, Bung Karno telah berimajinasi dan memancangkan tekad untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Dialektika Intelektual dan Ragam Bacaan Tokoh Dunia
Di dalam bilik belajarnya yang sederhana di Surabaya, Bung Karno melakukan dialog pemikiran yang intensif lewat buku-buku karya para pemikir dunia. Pergulatan literatur tersebut mempertemukannya dengan berbagai gagasan filosofis, ekonomi, dan politik dari berbagai bangsa dan zaman.
Beberapa tokoh dunia yang pemikirannya dipelajari dan diserap oleh Bung Karno antara lain:
- Thomas Jefferson dan George Washington
- William Gladstone
- Karl Marx
- Sun Yat-sen
- Mustafa Kemal Atat眉rk
- Jean-Jacques Rousseau
Selain nama-nama tersebut, Bung Karno juga mempelajari pemikiran para pejuang kemerdekaan dari berbagai bangsa. Seluruh bacaan ini menjadi bahan bakar intelektual yang merumuskan konsep nasionalisme Indonesia鈥攕ebuah nasionalisme yang berakar kuat dari refleksi mendalam di bilik sempit Surabaya.
Zulhas Minta Kader PAN Potong Gaji Bantu Korban Gempa NTT dan Karhutla, Rincian Kebijakan dan Sasarannya

Arahan Megawati: Integritas Kader dan Target Politik Jawa Timur
Dalam arahannya kepada kader PDI Perjuangan di Jawa Timur, Megawati menekankan agar keteladanan dan sejarah perjuangan di Surabaya tidak sekadar menjadi romantisisme masa lalu, melainkan diwujudkan dalam etika berpolitik hari ini. Megawati secara tegas mengingatkan para kader agar tidak menempatkan uang dan kekuasaan sebagai segala-galanya dalam menjalankan perjuangan politik.
Megawati juga mengingatkan kembali rekam jejak historis kader banteng di Jawa Timur yang terbukti tangguh dalam menghadapi ujian zaman. Peristiwa di Pandegiling dan Sukolilo disebut sebagai bukti nyata militansi arek-arek PDI Perjuangan Jawa Timur saat menghadapi tekanan politik pada masa Orde Baru.
Dengan modal historis dan semangat militansi tersebut, Megawati berharap Jawa Timur dapat terus memperkokoh posisinya sebagai basis utama atau "Kandang Banteng". Terkait target pemilihan, partai menargetkan perolehan kursi legislatif di Jawa Timur setidak-tidaknya dapat menyamai pencapaian yang pernah diraih pada Pemilu 2019.






